Tuesday, June 26, 2018

Yesus Itu Sosialis, Sang Pemberontak



Yesus mengkhotbahkan kesetaraan manusia di hadapan Allah; Dia mengkhotbahkan keadilan; Dia mengajarkan kesederhanaan dan kepedulian pada yang hina. Dia mendatangi perkampungan kumuh, tempat pelacuran, dan rumah orang lepra. Dia obrak-abrik para pedagang uang di pelataran Bait Allah dan menghardik mereka sebagai penyamun. Dia disalib oleh Gubernur Palestina yang bekerja sama dengan pemuka-pemuka agama, Farisi penguasa Bait Allah, dengan tuduhan sebagai pemberontak.

Ya, Dia memang memberontak. Tapi bukan hanya pada pemerintahan lalim. Dia menggugah kaum tertindas memberontak pada tatanan sosial-ekonomi yang korup dan menindas; pada tatanan sosial-ekonomi yang bertumpu pada penghisapan dan pemerasan kaum lemah.

Ia juga memberontak terhadap ritual-ritual formal penuh kemunafikan; liturgi yang kosong dari kepedulian terhadap kaum lemah. Ingat ketika Yesus bersabda: “Ahli-ahli Taurat itu dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu ikutilah dan lakukan segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi” (Matius 23: 1-7).

Yesus menentang penghisapan manusia oleh manusia. Bagi-Nya semua manusia setara di mata Allah. Tidak boleh ada yang mengambil manfaat secara keji dari orang lain karena kedudukannya. Apalagi dengan cara menindas. Semua manusia adalah saudara. Ingatlah Yesus bersabda: “Janganlah kamu disebut rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara” (Mat. 23: 8).

Sekarang memang tidak ada yang disebut Rabi di kalangan Kristen. Tapi bukan berarti lembaga Rabi musnah. Tidak! Di kalangan Kristen ada orang-orang yang ingin disebut pendeta, minister, reverend, pengkhotbah, dan segala tetek-bengek titel lain yang mencoba menempatkan dirinya di atas manusia lain dan mengambil manfaat dari persembahan orang-orang Kristen untuk memperkaya diri. Orang Kristen tidak hanya lupa pada sabda Yesus, tapi juga lupa pada kritik Martin Luther terhadap hirarki dalam beragama. Luther manghapuskan hirarki yang menindas bukan untuk melanggengkan sistem lama dengan nama baru!
Lupakah kita pada sabda Yesus: “Barang siapa terbesar di antara kamu, hendaklah dia menjadi pelayanmu” Ya. Kita lupa. Ketika kita besar, yang terjadi adalah kita ingin dilayani. Naik mobil mewah, lalu dijemput dengan penuh kehormatan munafik. Memasuki gereja megah, menerima salam dan persembahan jemaat sehingga bisa ziarah ke tanah suci sesering mungkin. Para pengkhotbah menjual Getsemani, Yerusalem, Danau Galilea, dan Bethlehem melalui perusahaan tour and travelnya untuk bisa membangun rumah megahnya di kawasan elit.

Yesus benci hirarki. Ingatlah Dia bersabda: “Barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, dia akan ditinggikan” (Mat. 23: 11). Bagi Yesus, manusia itu setara. Tidak boleh ada kelas-kelas yang menempatkan manusia ke dalam lapisan-lapisan tinggi-rendah sehingga yang tinggi bisa memeras si rendahan. Sama rata sama rasa, itulah ajaran Yesus. Mengapa para pengkhotbah tidak mengkhotbahkan ayat ini? Karena mereka teruntungkan oleh keadaan yang menempatkan mereka di kedudukan lebih tinggi dari umat awam. Dari kedudukan itu mereka bisa memperoleh previlage, penghormatan, rumah dinas, dan persepuluhan!

Para penindas adalah musuh Yesus. Lupakah kita pada sabdanya: “Calakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat” (Mat. 23: 14).

Di kalangan Kristen, para pemimpin jemaat merasa tidak menjadi sasaran sabda ini karena mereka bukan ahli Taurat, bukan Farisi! Keliru, mereka sungguh keliru. Para ahli Alkitab dan rohaniwan yang bekerja sama dengan penindas atau membiarkan penindasan terjadi, atau malah melakukan penindasan itu sendiri akan dihukum lebih berat. Farisi-farisi dalam kalangan Kristen tidak sedikit. Mereka bekerja sama dengan penguasa lalim; dengan kapitalis penindas kaum pekerja, menutup mata dan pura-pura tak tahu penggusuran tempat-tempat orang miskin mencari nafkah dengan alasan bahwa rakyat tertindas itu bukan Kristen. Sungguh picik. Persis seperti Farisi-farisi penguasa Bait Allah.

Ingatlah Yesus bersabda: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis, dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Mat. 23: 23).

Setiap waktu kita bayar persepuluhan, tapi yang kita bayarkan adalah dari hasil keringat-darah orang yang kita rampas haknya. Kita bayar persepuluhan buat gereja, tapi kita menindas orang lain untuk menumpuk-numpuk kekayaan kita sendiri. Kita bangga dengan bangunan gereja kita yang megah sementara itu orang-orang yang bekerja pada kita hidup sengsara tanpa tunjangan memadai sambil menyalahkan mereka sebagai orang bodoh dan malas. Toh mereka bukan Kristen. Bodoh! Kalian yang bodoh. Yesus tidak pernah bilang bahwa kita hanya harus peduli pada orang Kristen! Pesan Yesus adalah kita tidak boleh menindas pada sesama manusia; bukan urusan-Nya sesama itu Kristen atau bukan.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih” (Mat. 23: 25-26). Kita sering mendengar para pengkhotbah menganjurkan orang-orang kaya yang memperoleh kekayaannya dari memeras tenaga pekerja atau dari menipu kaum lemah, untuk rajin bersedekah atau memberikan persepuluhan secara rutin agar bisa masuk Sorga. Tetapi mereka tidak pernah mengkritik sistem yang membuat orang kaya itu kaya dan yang miskin itu tetap miskin, yaitu penghisapan manusia atas manusia. Persis seperti Farisi yang membersihkan pinggiran pinggan tapi membiarkan perampasan dan kerakusan tetap bercokol di bagian dalamnya.

Bila sosialisme secara longgar diartikan sebagai faham yang mengutamakan keadilan dan persamaan antarmanusia, dan bila sosialisme adalah faham yang menghendaki dihapuskannya praktek-praktek penghisapan manusia oleh manusia dan menjadikan kehidupan manusia tanpa sekat-sekat kelas antara kaum pemilik dan orang tak-berpunya maka tidak perlu ahli tafsir lulusan doktor teologi untuk sampai pada kesimpulan bahwa Yesus adalah sosialis.

====
**Bacaan Lepas Seri Pengantar Sosialisme Papua.
**Bagi para pembaca sosialisme Marx, Poin menarik terletak pada gagasan Marx tentang aktivitas praktis. Sekali diulangi, Marx mengatakan bahwa apa yang benar adalah apa yang bisa dipraktekkan, bukan sesuatu apa yang bisa diperdebatkan secara teoritis. Disini, Yesus dan Marx berdiri pada titik yang persis sama. Dalam Mat. 7:21, Yesus mengatakan, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.". Yesus Nazaret mengontraskan aktivitas "berseru" dan aktivitas "melakukan". "Berseru" sebagai sebuah aktivitas mulut-kritis dipandang lebih rendah dari pada "melakukan" sebagai aktivitas kritis-praktis. "Berseru" dengan intensitas yang tinggi (Tuhan, Tuhan, dituliskan dua kali berulang), dianggap tak berguna dari pada "melakukan". Mereka yang hanya bisa "berseru" malah digolongkan Tuhan sebagai pembuat kejahatan (ay. 23). 

Oleh Victor F. Yeimo, Penulis adalah Ketua Umum Pusat Komite Nasional Papua Barat [KNPB]


Romeltea Media
SAMPA Updated at:

Ide Dan Strategi Pembebasan Nasional Amilcar Cabral

Bicara pembebasan nasional, ada baiknya mengenal seorang pejuang kemerdekaan dari tanah Afrika: Amilcar Cabral. Dia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan Guinea-Bissau dan Cape Verde.
Ide dan strategi perjuangan Amilcar Cabral bukan hanya berhasil membebaskan negerinya, Guinea-Bissau, tetapi menjalar hingga seantero Afrika. Bahkan menginspirasi bangsa-bangsa dan rakyat tertindas di berbagai belahan dunia.
Cabral dibunuh oleh agen Portugis pada tanggal 20 Januari 1973. Saat itu, di tengah malam yang sunyi, seorang agen Portugis bernama Innocenta Canida, yang telah disusupkan dalam gerakan rakyat Guinea-Bissau selama bertahun-tahun, memberondongnya dengan senjata mesin.
Sekilas Perjuangannya
Kolonialis Portugis menjajah lusinan negara di Afrika, termasuk Guinea-Bissau dan Kepulaun Verde, selama 500-an tahun. Selama itu pula Portugis menjalankan perbudakan dan penjarahan secara sistematis terhadap negeri kecil itu.
Cabral lahir di tengah keganasan kolonialisme itu di Bafata, Guinea-Bissau, pada tanggal 12 September 1924. Ayahnya, Juvenal Lopez Cabral, adalah seorang guru dan pejuang anti-kolonial. Sementara ibunya, Iva Pinhel Evora, adalah seorang buruh di sebuah pabrik pemasok ikan.
Usia 8 tahun, Cabral ikut kedua orang tuanya ke Cape-Verde. Di sanalah ia bersekolah hingga sekolah menengah atas. Tahun 1940, Cape-Verde dilanda kekeringan dashyat. Sebanyak 50.000 tewas. Namun demikian, kolonialis Portugis tidak berbuat apapun. Kejadian itu benar-benar membuka mata Cabral untuk melihat kejahatan kolonialisme.
Pada tahun 1945, Cabral mendapat bea-siswa dari penguasa Portugis untuk belajar di Lisbon. Bea-siswa ini sebetulnya tidak cuma-cuma: penjajah Portugis berharap mahasiswa-mahasiswa cerdas ini bisa dikooptasi dan dijadikan administratur kolonial. Di sana Cabral mengambil studi ilmu pertanian.
Tetapi harapan kolonialis Portugis itu kandas. Di Lisbon, Cabral bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa Afrika dari berbagai negara, seperti Augustinho Neto (pejuang kemerdekaan Angola) dan Eduardo Mondlane (tokoh utama Front Pembebasan Mozambik/FRELIMO). Mereka membentuk kelompok studi bawah tanah, yang mempelajari teori-teori politik–termasuk marxisme–dalam rangka menemukan jalan keluar pembebasan negerinya.
Tahun 1950-an, Cabral kembali ke negerinya sebagai sarjana pertanian. Ia melakukan perjalanan ke desa-desa. Yang menarik, proses turun ke bawah (Turba) itu membawa Cabral pada sebuah kesimpulan: strategi land-reform–sebagaimana ditempuh banyak gerakan kiri di berbagai belahan dunia–tidak cocok untuk Guinea-Bissau. Pasalnya, corak utama kepemilikan tanah di Guinea-Bissau adalah kepemilikan tanah kecil.
Sebaliknya, bagi Cabral, penindasan kolonial justru berkontribusi besar dalam menindas kehidupan petani negerinya. Misalnya, penguasa kolonial membuat aturan yang mencekik leher petani, seperti harga jual yang ditentukan penjajah, pajak yang selangit, petani dipaksa menanam tanaman tertentu, dan lain-lain.
Pada tahun 1956, bersama lima kawannya dari Guinea-Bissau dan Cape Verde, Cabral mendirikan partai bernama Partido Africano da Independecia da Guinea e Cabo Verde (PAIGC/Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea dan Cape Verde). Partai inilah yang memimpin perjuangan pembebasan nasional Guinea-Bissau dan Cape Verde.
Awalnya, partai ini bergerak di perkotaan, dengan mengorganisir kaum buruh dan kaum miskin, kemudian merambat ke desa-desa untuk menyeret kaum tani dalam perjuangan. Sebulan setelah pembentukannya, PAIGC mengorganisir buruh di pelabuhan Bissau untuk melancarkan pemogokan. Namun, kolonialis merespon pemogokan itu dengan kejam. Polisi dan tentara dikerahkan untuk menumpas pemogokan itu: 50 buruh tewas dan ratusan lainnya terluka.
Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi Cabral dan PAIGC. Pada sebuah konferensi partai di tahun 1959, PAIGC memutuskan untuk mengambil metode perjuangan bersenjata. Sebagai tahap awal, mereka mengambil taktik gerilya, yang dimaksudkan untuk menstimulasi keadaan agar rakyat memberontak. Taktik gerilya ini efektif untuk menciptakan teritori-teritori yang terbebaskan.
Pada tahun 1964, PAIGC memasuki tahap perjuangan baru,  yakni membentuk sayap bersenjata bernama Angkatan Bersenjata Revolusioner Rakyat (FARP). Tak hanya itu, PAIGC mulai merekrut kaum buruh, petani, kaum miskin, dan anak-muda untuk terlibat dalam perjuangan bersenjata melawan Portugis.
Perjuangan bersenjata itu efektif. Tahun 1966, PAIGC mengklaim berhasil membebaskan 50% teritori negerinya. Keadaan itu membuat kolonialis Portugis naik pitam. Akhirnya, tahun itu juga, Portugis melipat-gandakan tentaranya di Guinea-Bissau.
Namun, PAIGC tak mau kalah. Taktik gerilya mereka diarahkan makin opensif. Dengan dukungan persenjataan dari negeri-negeri kiri, seperti Kuba dan Uni Soviet, PAIGC makin keras menghantam tentara Portugis.
Tahun 1969, PAIGC berhasil membebaskan dua-pertiga wilayah Guinea-Bissau. Tak hanya itu, di tengah perjuangan gerilya, partai ini juga berjuang membebaskan rakyatnya dari buta-huruf. Hal tersebut membuat PAIGC terus mendapat simpati dari rakyatnya.
Alhasil, pada tahun 1970-an, Portugis mulai mengumpulkan berbagai kekuatan, dengan dukungan Amerika Serikat, untuk menghabisi PAIGC. Pada bulan November 1970-an, Portugis mengerahkan tentaranya dan pasukan bayaran untuk merebut Conakry, Ibukota Guinea, dan membebaskan orang portugis yang ditangkap oleh PAIGC.
Tak hanya itu, Portugis mulai ‘menanam’ agen di dalam tubuh PAIGC, yang bertugas menciptakan keretakan dan perselisihan di dalam tubuh partai revolusioner itu. Lalu, pada tahun 1972, intelijen Portugis (PIDE dan DGS) mulai berupaya membunuh Cabral dan tokoh-tokoh kunci PAIGC lainnya. Tetapi upaya itu menemui kegagalan.
Pada tanggal 8 Januari 1973, setelah pelaksanaan Pemilu di daerah yang dibebaskan, Cabral menyerukan pembentukan Majelis Rakyat Nasional sebagai jalan menuju Proklamasi Kemerdekaan. Namun, rencana itu benar-benar membuat Portugal kalang-kabut. Untuk mencegah upaya itu, pada tanggal 20 Januari 1973, mereka membunuh Cabral.
Kendati demikian, proklamasi Kemerdekaan Guinea-Bissau tidak bisa dihentikan lagi. Tanggal 24 September 1973, Kemerdekaan Guinea-Bissau diproklamirkan.  Luís Cabral, saudara kandung Amilcar Cabral, ditunjuk sebagai Presiden.
Tak lama kemudian, tepatnya 25 April 1974, giliran rezim kolonial Portugal yang kena batunya. Sekelompok tentara yang menyebut dirinya Gerakan Angkatan Bersenjata (MFA), yang sudah muak dengan rezim fasis Salazar-Cateano, melancarkan pemberontakan militer. Rezim Fasis Portugal pun tumbang. Keadaan ini membuka jalan bagi dekolonialisasi semua jajahan portugal.
Strategi Tambahan
Yang menarik, kendati menempuh perjuangan bersenjata, tetapi PAIGC tidak menapikan perjuangan di medan lain, seperti di lapangan ekonomi, politik, kebudayaan, dan pendidikan.
Pertama, di daerah-daerah yang sudah dibebaskan, PAIGC mempraktekkan apa yang disebut demokrasi revolusioner, yakni melalui pembentukan Komite Desa (Comite de Tabanca). Di setiap desa, ada komite yang terdiri dari lima orang. Paling minimal harus ada dua orang perempuan. Komite inilah yang mengatur soal pertanian, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan menyediakan logistik bagi pasukan gerilya.
Kedua, pembentukan koperasi pertanian dan lumbung rakyat. Bagi Cabral, ekonomi merupakan dimensi penting dalam perjuangan pembebasan nasional. Dalam konteks ini, PAIGC mendorong pertanian kolektif dan pendirian koperasi-koperasi pertanian.
Ketiga, PAIGC juga mendirikan pusat-pusat pendidikan dan layanan kesehatan di daerah yang dibebaskan. Di bidang pendidikan, target utamanya adalah memberantas buta-huruf. Di bidang kesehatan, PAIGC mendirikan 177 posko sanitarios (pusat kesehatan). Tak hanya itu, PAIGC juga membentuk Brigade Kesehatan, yang mendorong dokter-dokter berkeliling ke desa-desa.
Keempat, PAIGC membentuk semacam “Pengadilan Rakyat” di daerah yang terbebaskan. Pengadilan ini punya tiga hakim yang dipilih langsung oleh rakyat di desa-desa. Para hakim ini sewaktu-waktu dapat diganti apabila dianggap tidak bisa bekerja sesuai keinginan warga desa.
Bagaimana Memaknai Pembebasan Nasional
Amilcar Cabral juga punya kontribusi penting dalam pendiskusian soal perjuangan pembebasan nasional. Di sini, ia mencoba memberikan jalan keluar terhadap kegagalan sejumlah gerakan pembebasan nasional di berbagai negara bekas jajahan, termasuk negara-negara Afrika.
Di negara-negara tersebut, meskipun sudah merdeka secara politik, tetapi gagal mencapai kemajuan di lapangan ekonomi. Penyebabnya, struktur ekonomi kolonial tidak pernah dirombak total. Akibatnya, negara-negara ini tetap bergantung secara ekonomi-politik ke negara-negara bekas penjajahnya.
Menurutnya, perjuangan pembebasan nasional sebagai sebuah proses revolusi tidaklah berujung hanya pada momen ketika bendera nasional dikibarkan dan lagu kebangsaan dinyanyikan.
Cabral menjelaskan, sebagai sebuah proyek revolusi, pembebasan nasional harus bermakna adanya perubahan mendasar pada kehidupan rakyat menjadi lebih baik (emansipasi).
Pada tahap awal, emansipasi ini harus bermakna kemerdekaan nasional, yang menghapuskan segala bentuk dominasi asing. Dalam realitas politiknya, bangsa merdeka harus pandai-pandai memilih teman dan mendefenisikan musuh dalam rangka memastikan proses emansipasi nasional tetap berjalan.
Dalam “The Weapon of Theory” (1966), ia menegaskan, pembebasan nasional harus didasarkan pada hak setiap rakyat untuk bebas menentukan nasibnya sendiri. Perjuangan ini akan mengembalikan identitas, martabat, dan hak menentukan nasib sendiri orang-orang Afrika yang merdeka.
Aspek kedua dari pembebasan nasional ini adalah pembebasan penuh kekuatan produktif nasional dari segala bentuk dominasi asing dan rintangan sosial-ekonomi imperialistik. Pembebasan kekuatan produktif ini bermakna penentuan cara produksi yang tepat sesuai dengan tuntutan pemenuhan kebutuhan rakyat, juga sesuai dengan tuntutan pengembangan kebudayaan rakyat, sehingga rakyat punya kapasitas untuk mengembangkan dirinya.
Untuk hal itu, dia mengingatkan, “perlu selalu diingat bahwa rakyat berjuang bukan hanya karena ide, untuk sesuatu yang ada di kepalanya….tetapi untuk keuntungan material, untuk hidup yang lebih baik dan damai, untuk membuat kehidupan mereka lebih baik dan menjamin masa depan anak-anak mereka.”
Artinya, bagi Cabral, perjuangan pembebasan nasional hanya akan bermakna jika membawa perubahan nyata dalam kondisi kehidupan rakyat. Dengan demikian, kemerdekaan akan kehilangan esensinya jika di alam kemerdekaan itu rakyat tetap tertindas dan terhisap, entah oleh bangsa asing ataupun bangsa sendiri.
Cabral juga tidak menapikan aspek pembebasan budaya, yang bertujuan menghapus budaya kolonialis/imperialis dan budaya lokal yang reaksioner. Ia menyerukan agar rakyat kembali kepada kebudayaan mereka sendiri, yang sesuai dengan lingkungan kehidupannya, dengan melempar jauh-jauh kebudayaan asing.
Namun, Cabral juga meyadari, bahwa perjuangan pembebasan nasional tidak bisa dititipkan pada satu tokoh ataupun pada sebuah organisasi politik. Maklum, gerakan pembebasan nasional kadang miskin ideologi, rogram politik, dan cita-cita politik.
“Jelaslah bahwa perjuangan rakyat akan efektif hanya jika alasan untuk berjuang itu didasarkan pada aspirasi, impian, dan keinginan untuk keadilan dan kemajuan rakyat sendiri, bukan aspirasi, impian, dan ambisi setengah lusin orang atau sekelompok orang yang bertentangan dengan kepentingan rakyat mereka yang sebenarnya,” katanya.
Tetapi, ke arah mana perjuangan pembebasan nasional itu? menuju emansipasi rakyat sepenuhnya, itu masih abstrak. Karena itu, Cabral terang-terangan memproklamirkan: “Di sini hanya ada dua jalan kemungkinan bagi bangsa merdeka: kembali ke dominasi imperialisme atau mengambil jalan menuju SOSIALISME.”
Mahesa Danu

Sumber: Berdikarionline.com

Romeltea Media
SAMPA Updated at:

Fidel Castro Dan Strategi Penyatuan Kekuatan Revolusioner


Revolusi Kuba adalah oase bagi gerakan revolusioner di jagat raya ini. Banyak gerakan revolusioner di Amerika Latin, juga di Asia dan Afrika, mengambil pelajaran dari revolusi Kuba.
Salah satu pelajaran terpenting dari Revolusi Kuba adalah keberhasilannya menyatukan berbagai kekuatan sosial rakyat Kuba. Hal itu memungkinkan penggulingan rezim Batista dan kemudian menjadi pembuka jalan menuju sosialisme.
Di sini Fidel Castro punya andil besar. Salah satunya adalah keberhasilan Fidel mengelaborasi sebuah strategi politik untuk membangun kekuatan sosial, yang memungkinkan penggulingan rezim Batista dan oligarki.
Fidel mengetahui bagaimana mengidentifikasi secara jelas mata-rantai paling menentukan, yang memungkinkan untuk mengambil alih keseluruhan rantai dan membuat revolusi bergerak maju. Di sini, mata rantai yang paling menentukan adalah perjuangan menggulingkan Batista.
Sebagai konsekuensinya, harus ada penyatuan seluruh kekuatan sosial anti-Batista. Artinya, bukan hanya menyatukan sektor dan klas revolusioner, tetapi juga sektor reformis dan bahkan sektor reaksioner yang berkontradiksi dengan Batista.
Strategi Fidel punya landasan kuat. Bagi Fidel, kekuatan imperialis, dengan sokongan koran, televisi, dan sarana komunikasi massa lainnya, menggunakan kebohongan halus untuk mempromosikan perpecahan dan menanamkan rasa takut kepada massa terhadap ide-ide revolusioner.
“Perpecahan adalah produk segala macam prasangka, ide yang salah dan bohong; sektarianisme; dogmatisme; kurangnya konsep umum dalam menganalisa peran setiap strata sosial, dengan partainya, organisasi dan pemimpinnya,” kata Fidel.
Menurut Fidel, semua hal di atas menghalangi perlunya kesatuan aksi yang harus terjadi dikalangan progressif dan demokratik. Hal itu merintangi upaya mengorganisir mayoritas besar massa rakyat dalam perjuangan anti-imperialisme dan anti-feodalisme. Fidel menyebut itu sebagai penyakit kekanak-kanakan dalam gerakan revolusioner.
Pada tahun 1971, ketika berbicara dengan mahasiswa Chile, Fidel memberikan pandangan menarik mengenai penyatuan berbagai kekuatan revolusioner. Fidel mengatakan, “hal ideal dalam politik adalah kesatuan pandangan, kesatuan doktrin, kesatuan kekuatan dan kesatuan komando, sebagaimana dalam perang.”
Sebuah revolusi memang menyerupai perang, kata Fidel. “Sangat sulit membayangkan pertempuran, di tengah sebuah pertempuran, dengan sepuluh strategi militer berbeda dan sepuluh taktik berbeda. Idealnya adalah kesatuan,” ujar Fidel.
Idealnya memang harus bersatu, tetapi kenyataannya bisa berbeda. Bagi Fidel, memang sulit untuk mencapai kesatuan penuh. Namun, mari mencari kesatuan dalam pandangan. “Kita mencari kesatuan dalam tujuan, kesatuan dalam isu yang spesifik. Jika tidak mungkin untuk mencapai persatuan yang ideal, mari kita bersama dalam sejumlah tujuan,” kata Fidel.
Revolusi Kuba memberikan tiga pelajaran penting terkait proses penyatuan kekuatan revolusioner:
Pertama, pemimpin revolusioner harus menempatkan upaya menyatukan kekuatan revolusioner sebagai perhatian utama. Dan untuk itu, seperti ditegaskan Fidel, mereka harus menggunakan tujuan minimum, bukan maksimum, sebagai titik tolak. Sebagai contoh, fakta Meksiko antara gerakan 26 Juli dan Revolutionary Directorate.
Kedua, hal yang paling banyak membantu dalam proses unifikasi kekuatan revolusional adalah implementasi strategi yang terbukti banyak kebenarannya dalam perjuangan melawan musuh utama. Jika hasilnya baik, maka kekuatan revolusioner yang lain akan bergabung dalam perjuangan, di momen kemenangan, atau beberapa bulan atau tahun berikutnya.
Ketiga, seluruh partisipan (dalam aliansi) harus punya hak yang setara dan setiap ‘penyakit superioritas’ yang mungkin muncul di satu atau lain organisasi harus diperangi. Ini sangat penting untuk mencapai persatuan kekuatan revolusioner yang jangka panjang. Dan, seperti diperingatkan Fidel, ini berguna untuk memberikan evaluasi yang tepat terhadap kontribusi setiap kekuatan revolusioner, tanpa menetapkan pembagian kekuasaan baik berdasarkan derajat keikutsertaan mereka dalam revolusi maupun berdasarkan jumlah anggota tiap organisasi.
Untuk memerangi sektarianisme, Fidel mengatakan begini: “revolusi adalah superior dibanding apa yang setiap kami kerjakan. Ini superior dan ini lebih penting dari setiap organisasi di sini.”
Fidel menggambarkan revolusi ibarat pohon besar, sedangkan organisasi-organisasi revolusioner sebagai akarnya. Pohon besar itu punya banyak akar. Semua akar, yang berasal dari arah yang berbeda, disatukan oleh batang pohong besar itu.
Selain itu, Fidel juga menekankan, bahwa besar dan kecilnya kekuatan revolusioner cukup berpengaruh dalam persatuan. Ia menjelaskan: “Mengapa ketika kami hanya berjumlah 120 orang bersenjata, kami tidak tertarik dengan persatuan luas, namun kemudian, ketika kami sudah berjumlah ribuan, kami tertarik untuk persatuan luas? Jawaban sederhana: ketika kami hanya 120 orang, persatuan berarti mayoritas di tangan elemen konservatif dan reaksioner atau perwakilan kepentingan yang tidak revolusioner, sekalipun menentang Batista. Namun, menjelang akhir perjuangan, ketika semua organisasi yakin bahwa gerakan akan mencapai kemenangan dan tirani akan dikalahkan, mereka akan tertarik untuk persatuan. Dan kami menjadi kekuatan menentukan di dalamnya.”
Rudi Hartono
Cat: artikel ini disarikan dari Marta Harnecker: Fidel Castro’s Political Strategy: From Moncada to Victory.

Sumber: Berdikarionline.com

Romeltea Media
SAMPA Updated at:

Monday, June 25, 2018

Sosialis Papua Bukan Kelompok “Freedom Dream”

Oleh: Victor Yeimo

Ada kegagalan memahami Sosialis Papua ketika menyamakannya dengan kelompok (gerakan) sion kids, mesianis, dan sejenisnya. Pejuang Papua Merdeka yang terdidik dengan filsafat sosialis akan menjawab, bahkan lebih utuh dan tuntas sampai ke akar-akarnya.
Ketika mengkritisi seluk beluk gerakan sosialis (apapun jenisnya), harus melihat pangkal filsafat. Kritisilah pada filsafat materialisme dialektika sebagai metode yang dipakai sosialis untuk memahami dan menelah seluk beluk kehidupan. Apakah ia menghidupi gerakan perlawanan atau tidak?
Mengapa demikian harus, karena Karl Marx buat filsafat Materialisme Dialektik bukan untuk dipergunakan untuk kaum intelektual (akademisi) filsafat. Tetapi, filsafatnya diperuntukan untuk kaum tertindas yang hendak melawan dengan cara-cara praksis.
Seorang sosialis tidak buta, utopis, atau berkhayal tentang pembebasan Papua. Karena segala bidang persoalan West Papua dapat dipelajari sepenuh-penuhnya, sedalam-dalamnya dengan materialisme dialektik.
Makanya sangat salah bila sosialis Papua dipandang sebagai kelompok Freedom Dream (kelompok yang memimpikan kebebasan). Kenapa salah, karena filsafat yang dipakai kaum sosialis tidak berjuang dalam impian-impian atau mimpi. Ia berjuang objektif dalam realitas secara progresif dan revolusioner. Sementara yang khayal-khayal, mimpi-mimpi, dll adalah kelompok yang dalam teori filsafat disebut idealisme. Filasafat idealisme sangat dilawan oleh filsafat marxisme.
Kelompok (gerakan) Koreri, Zion Kids, mesianik, dll, adalah gerakan yang masuk dalam kategori idealisme, karena melihat realitas Papua (dunia) sebagai refleksi dari ide, pemikiran, atau jiwa seorang manusia atau makluk maha kuasa.
Sudah lama, rakyat terpenjara dalam idealisme kolonial dan kapitalis. Ini penyakit, yang dalam Bahasa Antonio Gramski disebut Hegemoni. Banyak rohaniawan, akademisi, politisi, penguasa, juga yang menyebut diri pejuang Papua Merdeka telah lama menjadi korban hegemoni. Ciri-ciri mereka tidak susah untuk diketahui.
Banyak Organisasi Gereja yang menjerumuskan dan melanggengkan sistem dan segala kebijakan kolonial dan kapitalis. Itu bisa kita lihat dari khutbah-khotbah, doa-doa, dan segala pernyataan-pernyataan di muka umat Tuhan di Papua Barat.
Banyak pengajar, akademisi kampus, yang bangga pada intelektualitas lalu menjadi penyalur ide-ide hegemoni dari sistem dan kebijakan kolonial dan kapitalis. Selain itu, ada penyakit yang lebih bahaya adalah kelompok yang melihat perjuangan dengan pendekatan metafisik. Ini lebih bahaya dan sangat ditemukan dalam filsafat sosialis Karel Marx.
Kelompok ini menggunakan ide-ide metafisik, takhayul-takhayul, mimpi-mimpi, untuk menggerakan rakyat berjuang Papua Merdeka. Mereka suka mengkultuskan sesuatu atau seseorang sebagai nabi, penyelamat. Sosialisme sangat menolak ini.
Kesadaran utopis ini telah membiusi rakyat Papua untuk tidak bergerak secara objektif melihat realitas dan bergerakan dengan metode-metode revolusioner. Kesadaran seperti itu tidak akan pernah membuat perjuangak bergerak maju. Ia justru stagnan (tinggal di tempat) dalam budaya-budaya dogmatis, seremonial, formalitas, birokratis, egois, sukuis, apatis, pragamtis,dan penyakit-penyakit lainnya.
Kaum sosialis Papua memandang kesadaran seperti itu adalah hasil dari keberadaan (realitas hidup) orang Papua yang terjajah dan tertindas oleh kolonial dan kapitalis (imperialis). Selain terhegemoni, kesadaran seperti itu adalah pelarian dari ketakutan melawan penindas (kolonial dan kapitalis).
Kaum sosialis dengan filsafat materialisme dialektik memberi kesadaran objektif, yakni melihat realitas penindasan bukan sebagai sesuatu yang abadi dan kekal. Keabadian menjajah dan terjajah adalah filsafat kolonial dan kapitalis. Kita akan bangkit hancurkan surga abadinya dengan filsafat perubahan, sosialisme.
Apakah Sosialis Papua adalah adobsi Barat?

Filsafat sosialis – materialisme dialektika- tidak mengenal, dan sangat tidak dianjurkan untuk adobsi-adobsi. Filsafat sosialis berisi tentang teori-teori kesadaran materi (objek) serta hukum-hukum dialektika (perubahan) yang menjadi basis dalam memformulasikan metode-metode perlawanan revolusioner.
Artinya, kalau metode-metode perlawanan revolusioner itu tidak sesuai dengan, dari dan untuk kondisi objektif (realitas) maka ia bukan sosialis yang berlandaskan materialisme dialektik. Sosialis Mao berbeda dari Lenin. Sosialis Tan Malaka, Che Guevara, Fidel Castro, Hugo Chaves, Walter Lini di Vanuatu, Xanana di Timor Leste, Tanzania, dan sebagainya berbeda-beda sesuai kondisi objektif bangsanya dalam melawan imperialisme beserta anak kandungnya kolonialisme.
Karena itu, sosialis Papua adalah jalan dalam menemukan dan memformulasikan kembali antara teori dengan basis objektif orang Papua di Melanesia, sebagai senjata dalam melawan dan menghancurkan musuh sosialis yakni, imperialisme-kapitalisme yang telah melahiran dan menjaga keabadian kolonialisme di West Papua.
Teori sosialis penting, karena musuh yang kita lawan bukan turun dari langit, tetapi kolonialisme yang adalah anak kandung imperialisme. Sejarah dan realitas kolonialisme di Papua tidak datang begitu. Sistem dan segala kebijakan itu milik setan tua bernama Imperialisme yang telah dilawan dan terus dilawan oleh kaum sosialis dunia.
Apakah Sosialis Papua Anti pada Kebudayaan dan Gereja di Papua?
Harus ada pemilahan dalam menolak dan mendukung Budaya dan Gereja di Papua. Ada hal yang harus ditolak (dan yang ditolak adalah tentu yang berkaitan dengan akar-akar dan kebiasaan-kebiasaan yang melahirkan penindasan dalam budaya dan gereja di West Papua). Ada hal yang harus didukung (yang tentu berkaitan dengan bagaimana rakyat Papua melepaskan diri penindasan).
Sosialis Papua anti pada kebudayaan dan gereja yang melanggengkan (mengabadikan) penindasan di West Papua. Sosialis Papua menolak eksploitasi budaya (identitas) dan Gereja untuk mendukung aktivitas kolonialisme dan kapitalisme di West Papua. Sosialis Papua menolak kelas-kelas sosial budaya yang akan (bahkan sudah) menjadi agen dan aktor borjuis kapitalis yang mendukung kolonial Indonesia.
Sosialis Papua menolak tradisi budaya yang melemahkan semangat perjuangan revolusi West Papua. Sosialis Papua menolak kelas-kelas sosial dalam hirarki organisasi maupun dalam pelayanan. Sosialis Papua menolak Gereja yang membuat umatnya hanya duduk terlelap dalam ruang gereja sambil meratapi penderitaan bangsa, tetapi tidak menyuruh umatnya keluar berjuang, bergerak, melawan dalam realitas (kenyataan).
Sosialis Papua tidak anti pada identitas budaya dengan tradisi-tradisinya, sepanjang itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai kesetaraan, keadilan, kebersamaan (kerja sama/kolektifisme). Sosialis Papua menolak mengkultusan orang-materi. Sosialis Papua menghargai dan partisipatif terhadap keaneka ragaman suku-dan budayanya di West Papua, tetapi menolak sukuisme dalam membangun kebangsaan-negara Papua.
Sosialis Papua menghargai, bahkan ikut memajukan budaya dan nilai-nilai hidup orang Melanesia di West Papua, sepanjang itu bermanfaat untuk membentuk rakyat bangsa West Papua yang setara, adil, dan kolektif dalam berbangsa dan bernegara West Papua. Sosialis Papua menolak patriarki dan seksisme.
Intinya, Sosialis Papua tidak bertentangan dengan budaya dan gereja di Papua sepanjang keduanya menjadi kelompok sosial yang mendorong segenap rakyat West Papua untuk berjuang dalam realitas penindasan dengan kesadaran revolusioner, bukan dalam angan-angan, mimpi-mimpi, dan gerakan-gerakan utopis.

Romeltea Media
SAMPA Updated at:

APA YANG HARUS KITA PELAJARI dan APA YANG HARUS KITA AJARKAN

Ernesto Che Guevara
CHE GUEVARA Desember 1958
Artikel ini ditulis pada minggu-minggu terakhir sebelum kemenangan, dipublikasikan pada tanggal
1 Januari 1959 di Patria, organ resmi Tentara Pemberontak di Propinsi las Villas.
* * *
Di bulan Desember ini, bulan peringatan kedua pendaratan Granma, sangat bermanfaat untuk menilik kembali tahun-tahun perjuangan bersenjata dan pertempuran revolusioner kita selama ini. Gejolak pertama diberikan oleh kudeta Batista pada tanggal 10 Maret 1952, dan lonceng pertama bergema pada tanggal 26 Juli 1953, dengan penyerbuan tragis Moncada itu.
Jalanan ini masih panjang dan penuh dengan kesulitan serta kontradiksi. Pada rangkaian setiap proses revolusioner yang diarahkan secara tulus dan bila para pejuangnya sendiri tidak menghambatnya, selalu akan terjadi serangkaian interaksi berkesinambungan (resiprokal) antara pimpinan dan massa revolusioner. Gerakan 26 Juli pun merasakan efek dari hukum sejarah ini. Masih terdapat jurang pemisah antara kelompok kaum muda yang antusias yang melakukan penyerbuan garnisun Moncada pada dini hari 26 Juli 1953, dan pemimpin-pemimpin Gerakan itu pada saat ini, bahkan sekalipun orang-orangnya adalah sama. Selama lima tahun perjuangan ini –termasuk dua peperangan terbuka—telah membentuk semangat revolusioner kita yang senantiasa berhadapan dengan kenyataan dan kearifan naluriah rakyat.
Sesungguhnyalah, kontak kita dengan massa petani telah mengajarkan pada kita adanya ketidakadilan nyata di dalam sistem hubungan pemilikan pertanian pada saat ini. Kaum tani telah meyakinkan kita demi adanya perubahan fundamental yang adil dalam sistem pemilikan tersebut. Mereka menyinari praktek kita sehari-hari dengan kapasitas pengorbanan-dirinya, keagungan, dan kesetiaan.
Namun kita juga mengajarkan sesuatu. Kita telah mengajarkan bagaimana menghilangkan semua ketakutan terhadap penindasan musuh. Kita telah mengajarkan bahwa senjata ditangan rakyat adalah lebih unggul dibanding tentara-tentara bayaran itu. Pendeknya, sebagaimana dinyatakan pepatah umum yang tak perlu diulang-ulang lagi : dalam persatuan ada kekuatan.
Dan para petani yang telah menyadari akan kekuatan dirinya mendesak gerakan, pelopor perjuangannya, untuk maju lebih berani menuntut, hingga menghasilkan undang-undang reformasi agraria Sierra Maestra no.3. (1) Pada saat ini, undang-undang tersebut merupakan kebanggan kita, lambang perjuangan kita, alasan kita untuk hadir sebagai sebuah organisasi revolusioner.
Namun ini bukanlah selalu pendekatan kita terhadap masalah-masalah sosial. Pengepungan benteng kita di Sierra, dimana kita tidak memiliki hubungan yang sungguh penting dengan massa rakyat, dimana sesekali kita mulai merasa lebih yakin kepada senjata kita daripada yakin kebenaran ide-ide kita. Karena inilah, kita kemudian mengalami kepedihan pada tanggal 9 April, saat mana menandai perjuangan sosial dimana Alegria de Pio –satu-satunya kekalahan kitadalam lapangan pertempuran—telah gambarkan dalam perkembangan perjuangan bersenjata.
Dari Alegria de Pio kita dapat menarik pelajaran revolusioner agar tidak mengalami kegagalan lagi dalam pertempuran lainnya. Dari peristiwa 9 April itu, kita juga belajar bahwa strategi perjuangan massa mengikuti hukum-hukum yang tak bisa di belokkan atau dihindari. Pengalaman-pengalaman itu secara jelas memberi pelajaran kepada kita. Untuk kerja diantara massa petani –dimana kita telah mempersatukan mereka, tak peduli afiliasinya, dalam perjuangan demi tanah—saat ini saat ini kita menambahkannya dengan tuntutan kaum buruh yang mempersatukan masa proletar dibawah satu bendera perjuangan, Front Persatuan Buruh Nasional (FONU), dan satu tujuan taktis jangka pendek; pemogokan umum revolusioner.
Disini kita tidak menggunakan taktik-taktik demagogi dalam rangka memamerkan ketrampilan politik. Kita tidak mendalami perasaan massa atas dasar rasa keinginan tahu ilmiah semata; kita melakukannya karena menyambut panggilalan rakyat. Karena kita, sebagai pelopor pejuang buruh dan tani yang tak segan-segan mencucurkan darah kita di gunung-gunung dan dataran negeri Kuba ini, bukan elemen yang terisolasi dari massa rakyat; kita adalah bagian amat dalam dari rakyat. Peran kepemimpinan kita jangan mengisolasi kita; malahan sudah seharusnyalah ia mewajibkan kita untuk selalu bersama massa.
Fakta, bahwa kita adalah gerakan dari semua kelas di Kuba, yang membuat kita juga memperjuangkan kaum profesional dan pengusaha kecil yang menginginkan hidup dibawah undang-undang yang lebih baik; kita juga berjuang demi kaum industrialis Kuba yang berusaha memberi sumbangan kepada bangsa dengan menciptakan pekerjaan ; berjuang untuk setiap orang baik yang ingin melihat Kuba bebas dari kepedihan sehari-hari dimasa menyakitkan sekarang ini.
Sekarang melebihi dari yang sudah-sudah, gerakan 26 Juli, berjuang untuk kepentingan yang paling tinggi dari bangsa Kuba, berperang, tanpa kecongkakan, namun juga tanpa ragu-ragu, demi kaum buruh dan tani, demi kaum profesional dan pengusaha kecil demi para industrialis nasional, demi demokrasi dan kebebasan, demi hak untuk menjadi anak bebas, dari rakyat bebas, demi kebutuhan hidup kita sehari-hari, menjadi tindakan pasti dari upaya kita sehari-hari.
Pada peringatan kedua ini, kita ubah rumusan semboyan kita. Kita tidak lagi “menjadi bebas atau menjadi martir”. Kita akan menjadi bebas –bebas melalui tindakan seluruh rakyat Kuba, yang sedang memutuskan rantai-rantai penindasan dengan darah dan pengorbanan dari putra-putrinya yang terbaik.

Desember 1958

Romeltea Media
SAMPA Updated at:

Ho Chi Minh Surat kepada Orang Tua (1945)

Tetua yang terhormat,
Saya berbicara dengan Anda sebagai sesepuh seperti Anda. Sebuah pepatah mengatakan bahwa “talenta kelelahan dengan datangnya usia tua” dan orang tua kita umumnya mempercayainya. Apa pun yang terjadi, mereka berkata, “Orang tua harus hidup dalam ketenangan, kita sudah tua, kita tidak punya ambisi lagi. Terserah anak-anak kita untuk mengambil alih urusan sementara. Kita hampir mati, kita tidak perlu aktif lagi. ”
Saya tidak menghargai pandangan ini. Patriot tidak pernah hidup diam-diam karena usia tua mereka. Cina memiliki orang-orang seperti Ma Fu Po. Negara kita memiliki orang-orang seperti Ly Thuong Kiet. Semakin tua mereka tumbuh, semakin energik dan heroik mereka menjadi.
Saat ini kemerdekaan dan kebebasan kita baru saja dimenangkan, tetapi kita masih harus melalui banyak kesulitan untuk mengkonsolidasikannya. Karena itu orang-orang kita, baik tua maupun muda, harus berusaha untuk menanggung sebagian tanggung jawab.
Anak-anak kita masih muda, mereka akan melakukan pekerjaan berat. Kami sudah tua, kami tidak bisa melakukan pekerjaan berat, tetapi bersandar pada tongkat kami, kami akan memimpin untuk mendorong mereka dan menyampaikan pengalaman kami kepada mereka. Kami adalah penatua, kita harus dengan tulus bersatu terlebih dahulu untuk memberi teladan bagi anak-anak kita. Oleh karena itu, saya berharap bahwa orang-orang tua di Hanoi akan menjadi pelopor dalam mengatur Asosiasi Keselamatan Nasional orang tua untuk orang-orang tua di seluruh negeri untuk mengikuti dan berkontribusi untuk menjaga kemerdekaan nasional kita.

Romeltea Media
SAMPA Updated at:

Ho Chi Minh: Lenin Dan Masyarakat Kolonial (1924)

"Lenin sudah mati!" Berita ini menghantam orang-orang seperti sebatang duri dari biru. Ini menyebar ke setiap sudut dataran subur Afrika dan ladang hijau Asia. Memang benar bahwa orang-orang hitam atau kuning belum tahu dengan jelas siapa Lenin atau di mana Rusia berada. Kaum imperialis dengan sengaja membuat mereka tidak tahu apa-apa. Ketidaktahuan adalah salah satu andalan utama kapitalisme. Tapi semuanya, dari petani Vietnam hingga pemburu di hutan Dahomey, telah diam-diam mengetahui bahwa di sudut yang jauh di bumi ada bangsa yang telah berhasil menggulingkan para penghisapnya dan mengelola negaranya sendiri tanpa membutuhkan tuan dan Gubernur Jenderal.

Mereka juga mendengar bahwa negara itu adalah Rusia, bahwa ada orang-orang pemberani di sana, dan bahwa yang paling berani dari mereka semua adalah Lenin. Ini saja sudah cukup untuk mengisinya dengan kekaguman yang mendalam dan perasaan hangat untuk negara itu dan pemimpinnya.

Tapi ini belum semuanya. Mereka juga belajar bahwa pemimpin besar itu, setelah membebaskan bangsanya sendiri, ingin membebaskan orang lain juga. Dia menyerukan kepada orang-orang kulit putih untuk membantu orang-orang kuning dan kulit hitam untuk membebaskan diri mereka sendiri dari genggaman para penyerang asing, dari semua agresor asing, para Penduduk Gubernur Jenderal, dll. Dan untuk mencapai tujuan itu, dia memetakan sebuah program yang pasti.

Pada mulanya mereka tidak percaya bahwa di mana pun di dunia ini bisa ada orang seperti itu dan program semacam itu. Tetapi kemudian mereka mendengar, meskipun samar-samar, dari Partai-Partai Komunis, dari organisasi yang disebut Komunis Internasional yang memperjuangkan orang-orang yang dieksploitasi, untuk semua orang yang dieksploitasi termasuk mereka sendiri. Dan mereka belajar bahwa Lenin adalah pemimpin organisasi itu.

Dan ini saja sudah cukup untuk membuat orang-orang ini - meskipun standar budaya mereka rendah, mereka bersyukur rakyat dan niat baik - sepenuh hati menghormati Lenin. Mereka memandang Lenin sebagai pembebas mereka. "Lenin sudah mati, jadi apa yang akan terjadi pada kita? Akankah ada orang-orang yang berani dan dermawan lainnya seperti Lenin yang tidak akan meluangkan waktu dan upaya mereka tentang diri mereka sendiri dengan pembebasan kita? ”Inilah yang ditakutkan oleh masyarakat kolonial yang tertindas.

Bagi kami, kami sangat tersentuh oleh kehilangan yang tidak dapat kembalai ini dan berbagi dukacita bersama seluruh rakyat dengan saudara-saudari kita. Tetapi kami percaya bahwa Komunis Internasional dan cabang-cabangnya, yang termasuk cabang di negara-negara kolonial, akan berhasil dalam menerapkan pelajaran dan ajaran yang ditinggalkan pemimpin bagi kami. Untuk melakukan apa yang dia nasihatkan kepada kita, bukankah itu cara terbaik untuk menunjukkan cinta kita padanya?
Dalam kehidupannya dia adalah ayah, guru, kawan dan penasihat kami. Saat ini, dia adalah bintang terang yang menunjukkan kepada kita jalan menuju revolusi sosialis.
Kekal Lenin akan hidup selamanya dalam pekerjaan kita.


Oleh: 
Ho Chi Minh

Romeltea Media
SAMPA Updated at:

Perjuangan Kelas dan Pembebasan Nasional

H.J. & R.E. Simons Class


Kelesuan Afrika Selatan berasal dari dampak industrialisme maju pada tatanan kolonial yang usang dan memburuk. Stres dan konflik adalah gejala ketidakharmonisan batin. Kontradiksi atau antagonisme, terjadi antara struktur dan suprastruktur masyarakat, antara potensi dinamis dari kekuatan buruh multi-rasial dan selat-sela lembaga-lembaga yang terpisah secara rasial; antara peran kolektif yang dominan orang Afrika dalam ekonomi dan pengecualian mereka dari pusat-pusat kekuasaan. Kondisi material menguntungkan bagi munculnya masyarakat terbuka.


Jika kekuatan produktif diizinkan bermain bebas dan diselaraskan dengan hubungan sosial, warna kulit akan menjadi tidak relevan dengan status dan fungsi. Hirarki ras yang kaku menghalangi kelahiran masyarakat yang bebas. Sekitar empat juta orang kulit putih menggabungkan hak istimewa otokrasi kolonial dengan teknologi dan fasilitas usia mesin dan menggunakan langkah-langkah paksaan untuk menjaga lima belas juta orang Afrika, Berwarna dan India secara subordinasi permanen.

Kualitas imperial-kolonial masyarakat, yang mungkin tidak jelas pada cahaya pertama, menjadi terlihat dibandingkan dengan koloni yang khas. Dalam bentuk normal, koloni adalah entitas teritorial yang berbeda, terpisah secara spasial dari metropolis kekaisarannya, dan diizinkan untuk mempertahankan otonomi budaya sebanyak yang sesuai dengan kepentingan pemiliknya yang tidak hadir. Ini menginvestasikan modal di koloni, mempromosikan perdagangan dan pertumbuhan ekonomi, memperkenalkan keterampilan, menciptakan dasar-dasar administrasi modern, dan menghasilkan perubahan sosial. Mereka juga mengabadikan bentuk-bentuk sosial kuno di kalangan penduduk kolonial, menghambat perkembangan spontan, dan memberlakukan metode-metode pemerintahan otokratik. Pemukim dan pejabat kulit putih memonopoli sumber-sumber kekuasaan, semua posisi kunci dan pekerjaan yang disukai; sesuai jauh lebih banyak daripada bagian yang adil dari layanan pendidikan, kesehatan dan sosial lainnya; dan mempertahankan kesenjangan budaya yang lebar antara mereka dan orang-orang yang lebih gelap.

 Model ini cocok dalam garis besar. Orang Afrika Selatan Putih berperilaku seolah-olah mereka adalah penguasa kekaisaran dari koloni yang jauh. Namun mereka menipu diri mereka sendiri. Negara ini sebenarnya telah maju jauh melampaui batas-batas kolonialisme primitif. Tidak ada tempat lain di Afrika yang memiliki sebagian besar penduduk yang direbut atau diserap dalam ekonomi kapitalis. Orang Afrika diizinkan untuk memperoleh domisili permanen dan mendarat properti di hampir sepersepuluh dari luas permukaan. Mereka bergantung sepenuhnya atau sebagian besar pada apa yang mereka hasilkan di sisa sembilan sepersepuluh yang telah dinyatakan sebagai 'negara orang kulit putih'. Ini adalah sektor yang dikembangkan, yang mengandung hampir semua tambang, ladang, pabrik, kota, pelabuhan, kereta api dan pusat-pusat strategis, dan dapat disamakan dengan negara kekaisaran. Tapi itu 'putih' hanya dalam hal hak milik dan otoritas politik. Orang kulit hitam dan cokelat melebihi jumlah orang kulit putih di hampir setiap kota dan distrik pedesaan. Orang Afrika, Kulit Putih, Berwarna, dan orang Asia berinteraksi di banyak pesawat dan bekerja sama dalam berbagai macam kegiatan. Interdependensi tidak terbatas pada pasar atau produksi barang. Pola perilaku, institusi dan ide memotong garis warna.

 Jumlah orang Afrika hitam, coklat, dan kulit putih yang signifikan, memiliki keyakinan agama yang sama, termasuk dalam jenis organisasi keluarga yang sama, memainkan permainan yang sama dan mengejar tujuan politik umum. Tingkat keseragaman budaya tinggi, dan akan lebih tinggi tetapi untuk sistem rumit diskriminasi warna dan pemisahan wajib. Diskriminasi total, dan totalitarianisme mengungkapkan sejauh mana Afrika Selatan telah bergabung menjadi satu, masyarakat yang tak terpisahkan. Pemerintah sebelumnya secara aktif mempromosikan integrasi, dan menggunakan slogan seperti 'perwalian' dan 'kepercayaan' untuk memperhitungkan dominasi putih. Pemerintah sekarang beralih ke kosakata dekolonisasi, menolak integrasi dan bersikeras bahwa itu dapat dibalik. Cara ideal untuk menyelesaikan konflik rasial, menurut pemerintah, adalah memaksakan segregasi maksimum, mengembangkan komunitas etnis otonom, dan mengakui hak mereka untuk menentukan nasib sendiri, bahkan mungkin memisahkan diri. Alih-alih berbagi kekuasaan dengan orang-orang Afrika, orang-orang aparthe akan memecah negara menjadi negara-negara kecil yang merdeka. Atau begitulah yang mereka katakan. Visi tidak memiliki substansi. Hal ini tidak sejalan dengan catatan sejarah, realitas yang tidak mengikat, dan aspirasi kebanyakan orang Afrika Selatan.

Dogma-dogma apartheid harus dianggap bukan sebagai cetak biru untuk dekolonisasi tetapi sebagai formula untuk membekukan masyarakat dalam cetakan kolonial kuno. Mereka memberikan dalih untuk diskriminasi total dan menyangkal klaim klaim mayoritas Afrika. Apartheid juga merupakan slogan partai, teriakan perang untuk menggalang pemilih di balik platform nasionalisme Afrikaner. Antagonisme antara Afrikaner dan politik partai yang didominasi Inggris untuk sebagian besar periode kita. Inggris memiliki banyak keunggulan awal. Didukung oleh negara kekaisaran dan mewakili budaya di seluruh dunia, mereka berperilaku dengan arjaminan rogant dari penakluk. Mereka mendominasi pertambangan, industri dan perdagangan, bank yang dikendalikan dan rumah keuangan, dan menyediakan keterampilan teknis yang paling. Budaya urban mereka melanda Afrikaner, meninggalkan jejak permanen pada gaya hidupnya, memupuk divisi kelas, memperkenalkan radikalisme liberal dan sosialis, dan menggerogoti nilai-nilai masyarakat agraris tradisionalnya. Melawan penyerapan, Afrikaner memperoleh kesadaran nasional dalam perjuangan mereka untuk kemerdekaan politik, hak bahasa, kohesi agama, dan supremasi kulit putih. Mereka didesak untuk mendukung pekerjaan - orang-orang kita sendiri; untuk membeli dari penjaga toko Afrikaner, berinvestasi di perusahaan Afrikaner, baca Afrikaans, menghadiri gereja Afrikaner, bergabung dengan masyarakat Afrikaner, dan berpartisipasi dalam kegiatan budaya Afrikaner. Mereka didorong untuk membuat upaya nasional yang besar untuk mengejar Inggris dalam bisnis menghasilkan uang, dengan berkontribusi pada dana yang dibentuk untuk membantu pengusaha Afrikaner. Beberapa yang terakhir sangat sukses, tetapi jeda tetap ada. Seperti komunitas yang belum berkembang lainnya, Afrikaner menemukan bahwa sentimen nasional dan kesetiaan partai tidak cukup untuk serangan yang sukses pada kapitalisme yang bercokol. Secara kolektif dan individual, mereka membuat sedikit kemajuan melawan akumulasi modal Inggris, teknologi, pengalaman manajerial, dan hubungan kekaisaran. Dalam peristiwa itu, kekuatan politik terbukti lebih efektif daripada perusahaan swasta. Afrikaner membuat lompatan besar ke depan politik.

Di sini ia memiliki keunggulan superioritas numerik atas Inggris, kohesi budaya yang lebih besar, nilai yang harus diselesaikan dan kehendak setan untuk memerintah. Inggris menciptakan kondisi untuk keberhasilannya dengan memperkenalkan pemerintahan parlementer, sistem dua partai, dan waralaba serba putih di provinsi utara. Dengan suara terbatas pada kulit putih, enam puluh persen di antaranya berbahasa Afrika, partai Nasionalis hanya perlu mengkonsolidasikan kaum Afrikaner, atau mayoritas yang cukup, dalam satu kamp suara. Inteligensia - politisi, predikant, pengacara, penulis, dan pegawai negeri guru - mempersiapkan tanah. Mereka mengkhianati ketidakadilan masa lalu di bawah kekuasaan Inggris; kaum Afrikaner yang terisolasi dalam institusi agama, sosial dan ekonomi yang terpisah; gelisah untuk hak bahasa yang sama; ditekan untuk segregasi rasial total; dan melanjutkan balas dendam tanpa belas kasihan terhadap orang Afrika, Berwarna dan India. Pembalap dan Inggris tidak pernah membiarkan antagonisme mereka mengganggu tatanan rasial. Mereka memanipulasi orang-orang Afrika dan Berwarna demi keuntungan partai, dan membuat tujuan bersama melawan mereka dalam membela supremasi kulit putih. Pada tahap konstitusional yang krusial - pada 1902-7 setelah perang Anglo-Afrikaner; pada 1909-10, ketika ketentuan unifikasi diputuskan; dan lagi pada tahun 1936. tahun di mana orang-orang Cape Afrika disingkirkan dari gulungan umum - Inggris setuju dengan prinsip kekuatan putih eksklusif. Perpanjangan waralaba di seluruh garis warna tentu akan meningkatkan prospek pemilihan mereka, dan mungkin telah memiringkan keseimbangan menguntungkan mereka. Namun mereka memilih untuk tetap menjadi minoritas politik di kalangan elit kulit putih. Kekuasaan pemerintah diteruskan ke nasionalisme Afrikaner.

 Inggris memiliki kepuasan untuk terus memiliki sebagian besar kekayaan industri dan komersial negara tersebut. Konflik ekonomi antara orang Afrika dan orang kulit putih yang berbicara bahasa Inggris juga diselesaikan jika memungkinkan dengan memperkenalkan sejenis diskriminasi rasial yang darinya keduanya akan memperoleh keuntungan. Para pemilik toko atau agen real yang bersaing akan bersatu dalam menekan langkah-langkah untuk membatasi kegiatan bisnis orang Asia, mencegah orang Afrika berdagang di area perbelanjaan utama, atau memberi orang kulit putih hak eksklusif untuk memiliki tanah di daerah pinggiran yang dipilih. Persaingan untuk pekerja Afrika, untuk mengambil contoh lain, telah menjadi penyebab kronis perselisihan antara petani dan industrialis. Para petani telah berteriak dan mendapatkan undang-undang yang ketat untuk mengarahkan aliran petani jauh dari kawasan industri ke peternakan. Para industrialis dan pemilik tambang telah menemukan solusi lain, yang lebih memuaskan bagi mereka sendiri.

Mereka merekrut orang-orang Afrika asing dari wilayah-wilayah di Afrika bagian selatan dan tengah, sehingga menghindarkan kelangkaan tenaga kerja dari mana penduduk Afrika yang lahir di rumah akan mendapat manfaat. Para petani menghindari masalah buruh yang berduri lainnya, persaingan antara pekerja kulit putih dan kulit hitam, hanya dengan mempekerjakan orang Afrika dan Berwarna pada semua macam pekerjaan manual, baik terampil maupun tidak terampil. Ini adalah pola kolonial, yang menyisakan sedikit ruang untuk tangan pertanian putih, dan tetap bertahan meskipun ada mekanisasi yang cukup besar di bidang pertanian. Praktik mencadangkan pekerjaan yang disukai untuk orang kulit putih adalah fenomena yang pada dasarnya bersifat perkotaan, yang mungkin tidak berkembang menjadi sistem yang kaku jika para industrialis dibiarkan bebas.

Mereka tidak pernah berhenti mengeluh (kurang bersemangat sekarang daripada di masa awal industrialisme) bahwa pembagian kerja oleh ras mengisolasi pekerja kulit putih terhadap persaingan, menghilangkan Orang Afrika berkesempatan untuk mendapatkan dan menerapkan keterampilan, dan membuat inefisiensi pada kedua kelompok. Karena ini, dikatakan, output rendah, biaya tinggi, dan produsen tidak dapat menahan diri dalam persaingan dengan produsen asing. Namun kaum liberal menyimpulkan bahwa batang warna industri tidak sesuai dengan ekspansi ekonomi, bahwa orang Afrika dan industrialis memiliki kepentingan bersama. terhadap para pembela tatanan kolonial, dan bahwa industrialisasi substansial akan mengikis kekakuan rasial. Penyerapan sejumlah besar petani ke dalam populasi urban yang permanen akan, diharapkan, mempersempit kesenjangan budaya antara orang kulit putih dan Afrika, dan mendorong kerjasama di antara mereka.

Kemudian, juga, kelangkaan tenaga kerja yang dihasilkan dari pertumbuhan ekonomi diharapkan membuka pintu di mana orang Afrika dapat memasuki perdagangan trampil, untuk kebaikan yang lebih besar dari semua yang bersangkutan: pengusaha, mendapatkan manfaat dari biaya unit yang lebih rendah; Orang-orang Afrika dari upah yang lebih tinggi; pasar domestik dari peningkatan kapasitas pembelian; dan pekerja kulit putih dari peluang yang lebih luas untuk teknisi dan pengawas. Seperti di Eropa Barat pada abad kesembilan belas, para produsen akan mendesak penghapusan hambatan ke kapitalisme yang dirasionalisasi, yang bertindak sebagai pelarut kekakuan sosial, akan mempersiapkan jalan bagi demokrasi parlementer multi-rasial. Bertentangan dengan harapan seperti itu, bagaimanapun, industrialisme tidak memiliki batang warna yang tererosi.

 Diskriminasi rasial lebih meresap, berat dan memalukan daripada dua puluh tahun yang lalu. Populasi Afrika perkotaan enam kali lebih besar daripada tahun 1900, namun belum pernah begitu terjepit dan tidak aman seperti sekarang. Tingkat upah tidak terampil yang rendah dan disparitas yang berkembang antara pendapatan putih dan Afrika rata-rata tidak mencegah pertumbuhan pasar internal yang besar atau ekspor produk primer dan sekunder yang cukup besar. Bar warna statutory telah diperpanjang dari penambangan ke industri manufaktur meskipun kelangkaan pekerja terampil. Daripada mengakui orang Afrika ke perdagangan trampil, pemerintah mensubsidi imigrasi kulit putih. Setiap preferensi yang dimiliki para industrialis untuk mendapatkan pasar tenaga kerja yang bebas dan kompetitif didiskontokan oleh manfaat yang mereka peroleh dari tenaga kerja yang terlatih.

Manajemen pabrik mempekerjakan para petani migran yang digantikan; membayar mereka kurang dari upah hidup; rumah mereka dalam senyawa; memulangkan orang yang sakit, pincang, dan terbebas ke desa mereka; dan memperbaharui suplai pria berbadan sehat dengan menggambar di komunitas pedesaan di seluruh sub-benua. Rendahnya tingkat upah Afrika mengimbangi biaya perekrutan dan pelatihan petani di bawah instruktur dan pengawas putih yang mahal. Dengan mengetuk sumber daya manusia di wilayah terluar kerajaan ekonomi Afrika Selatan, pemilik tambang dapat membekukan upah Afrika dan menjauhkannya dari pekerjaan terampil. Kesenjangan antara upah penambang putih dan Afrika lebih luas daripada tiga puluh tahun yang lalu; jumlah orang Afrika yang bekerja di tambang emas lebih besar (370.000 dibandingkan dengan 297.000); dan proporsi orang-orang Afrika yang lahir di rumah terhadap total angkatan kerja Afrika di pertambangan telah menurun dari 52-35 persen. Tidak semua penambang Afrika adalah pekerja migran sementara. Banyak yang memperbarui kontrak kerja mereka untuk periode kumulatif hingga dua puluh atau tiga puluh tahun; beberapa memiliki istri dan anak-anak di kota-kota kotamadya yang berdekatan. Tetapi struktur industri pertambangan, sistem gabungan dan kebijakan negara mencegah kecenderungan laki-laki untuk menetap dan tinggal bersama keluarga mereka di dekat tempat kerja. Adalah kebijakan pemerintah untuk menerapkan pola ketidakstabilan serupa pada orang Afrika yang bekerja di pabrik, bengkel, perdagangan, dan transportasi. Undang-undang yang berlaku, yang secara resmi disebut kontrol arus masuk, membatasi ukuran penduduk perkotaan Afrika dengan jumlah yang diperlukan untuk tujuan tenaga kerja.

Hanya orang-orang yang lahir di kota atau telah tinggal di sana terus-menerus selama paling sedikit sepuluh tahun dapat menyewa rumah keluarga dan memiliki keluarga mereka dengan mereka. Laki-laki yang tidak berkualifikasi dapat tetap tinggal di kota hanya jika disewa untuk bekerja di perusahaan yang ditunjuk. Mereka tidak dapat membawa istri dan tanggungan mereka dengan mereka, dan harus pergi jika tidak bekerja. Entri ditolak untuk wanita dari daerah pedesaan. Orang-orang Afrika yang kelebihan kebutuhan tenaga kerja dan mereka yang tidak dapat bekerja karena usia tua dan penyakit harus kembali ke cagar alam. Usaha-usaha di bawah undang-undang undang-undang untuk menutup setengah juta kasus per tahun dan membentuk dua puluh tiga persen dari semua kasus yang diadili. di pengadilan pidana. Orang Afrika membayar harga tinggi dalam denda, hukuman penjara dan kehilangan upah karena pembangkangan pribadi mereka terhadap undang-undang yang dibenci; tetapi biaya sosial lebih tinggi. Tenaga kerja migran dan pengendalian arus masuk mengganggu kehidupan keluarga, menyia-nyiakan tenaga, mengembangkan inefisiensi dan menyebabkan ketidakstabilan di masyarakat pedesaan dan perkotaan. Sistem ini rasional hanya sebagai alat untuk membentengi pertahanan kaum minoritas kulit putih melawan proletariat Afrika yang sedang berkembang. Rotasi abadi orang Afrika di bawah pengawasan polisi yang intensif memiliki efek melumpuhkan pada buruh dan organisasi politik Afrika s.

Ketakutan untuk 'mengesampingkan' kota-kota telah menjadi penghalang utama bagi aksi massa melawan apartheid. Migrasi jangka panjang dengan demikian menunda proses konsolidasi orang Afrika menjadi kelas proletariat yang sadar-kelas. Pada saat yang sama, diskriminasi rasial mengaburkan kepentingan apa pun yang mereka miliki bersama dengan pekerja kulit putih. Orang Afrika dan kulit putih mungkin tidak menikah, tinggal di lingkungan yang sama, atau bepergian, makan, minum, dan bermain bersama. Mereka hanya bergaul di tempat kerja dan tidak pernah setara sosial. Pekerja kulit putih dilatih untuk posisi otoritas; mereka milik elit rasial, dan berbagi kekuatan dan keistimewaannya. Ditopang oleh hukum dan konvensi terhadap persaingan, mereka memperoleh keuntungan besar dari kelangkaan keterampilan yang diinduksi secara artifisial.

Upah rata-rata pekerja kulit putih lebih dari lima kali lipat dari orang Afrika di industri manufaktur (£ 119 per bulan dibandingkan dengan £ 22), dan lebih dari lima belas kali lipat dari orang Afrika di tambang emas (£ 5 17. Pergeseran dibandingkan dengan 7s. 5d.). Perbedaan dalam status dan standar hidup menanamkan rasa superioritas dalam warna putih dan menghilangkan setiap gagasan kesatuan atau kohesi dengan pekerja kulit hitam. Kaum sosialis tradisional pada awal abad ini mengambil pandangan Marxis bahwa kaum kapitalis dan pekerja termasuk kelas-kelas yang saling berlawanan. . Sebuah kelas sosial dalam teori Marxis muncul ketika orang-orang yang melakukan fungsi yang sama dalam proses produksi menjadi sadar akan kepentingan bersama mereka dan bersatu untuk mempromosikan mereka melawan kelas lawan. Kaum Marxis mengakui elemen kompetitif dalam hubungan antar pekerja, tetapi percaya bahwa itu kurang penting daripada identitas kepentingan mereka sebagai penerima upah. Konflik rasial dan prasangka warna dianggap sebagai produk sampingan dari kapitalisme, yang memprovokasi antagonisme seperti itu untuk memecah belah para pekerja. Di sisi lain, kapitalisme menciptakan kondisi yang memaksa pekerja untuk mengenali kepentingan bersama mereka. Sistem produktif memiliki kecenderungan yang melekat untuk mengurangi standar kehidupan pekerja ke tingkat terendah di mana ia dapat memproduksi dan bereproduksi. Kecenderungan itu dimanifestasikan dalam substitusi orang Afrika bergaji rendah untuk pekerja kulit putih yang lebih mahal.

Karena sia-sia mengharapkan perlindungan dari pemerintah kapitalis, para pekerja kulit putih akan berkewajiban dalam jangka panjang untuk mengorganisir orang Afrika dan bergabung dengan mereka melawan kelas kapitalis. Hal ini dapat diperdebatkan pada fakta-fakta sejarah bahwa solidaritas antar-ras dalam pengertian Marxis ada sebagai potensi di Afrika Selatan; bahwa kondisi yang ditentukan dapat direalisasikan jika pekerja dari kelompok warna yang berbeda diperbolehkan kebebasan berserikat. Pekerja kulit putih benar-benar memperoleh kesadaran kelas, bergabung dalam serikat pekerja, membentuk partai politik dengan tujuan sosialis, mogok, dan kadang-kadang, seperti pada 1913-14 dan 1922, bentrok keras dengan kekuatan pemerintah. Ada juga bukti kerjasama antar ras. Putih, Berwarna dan India milik serikat yang sama dalam beberapa pekerjaan; orang kulit putih dan Afrika bergabung bersama dalam beberapa situasi untuk menekan upah yang lebih tinggi atau hak-hak serikat pekerja. Anggota Liga Sosialis Internasional dan kemudian partai Komunis mengisi peran utama dalam perjuangan ini; dan menemukan banyak bukti untuk mendukung tesis mereka tentang solidaritas pada pekerja dari semua ras melawan kapitalisme. Pada model demokrasi sosial di negara-negara industri maju, kaum radikal membayangkan perkembangan gerakan buruh non-rasial di mana pekerja kulit putih, dengan alasan status pengalaman dan kesadaran sosial mereka, akan memimpin dan berusaha menuju revolusi sosial. Visi radikal gagal terwujud. Afrika Selatan secara unik menunjukkan bahwa minoritas rasial yang dominan dapat mengabadikan kekakuan sosial dan sifat feodalisme pada basis industri yang maju dan berkembang. Untuk merekapitulasi: status kewarganegaraan ditentukan saat lahir dan untuk hidup oleh warna daripada kelas, oleh silsilah daripada fungsi; seseorang dapat naik atau turun skala sosial dalam kelompok warna utamanya, tetapi dia tidak dapat pindah ke kelompok lain seperti itu; kategori fungsional memotong garis warna, tetapi anggota dari satu ras tidak dapat berkombinasi secara bebas dengan rekan fungsionaris dari ras lain.

 Memang, ada solidaritas kelas pekerja yang kurang dari 30 tahun yang lalu; serikat pekerja telah terpecah belah oleh perpecahan nasional dan rasial; dan serikat buruh Afrika hanyalah bayangan dari diri mereka sebelumnya. Keterasingan rasial di kelas pekerja tidak diragukan lagi merupakan konsekuensi dari faktor-faktor yang dibikin, dan bukan dari antipati bawaan atau bias biologis. Labourisme Putih telah menjadi penyebab utama kebijakan yang memicu permusuhan rasial, mengisolasi kelompok warna, dan menghilangkan kesadaran kelas dalam kesadaran warna. Para imigran Inggris yang mendirikan gerakan buruh Transvaal di awal abad ini ingin menguasai Afrika. Dimulai dengan permohonan serikat buruh dasar untuk perlindungan terhadap pengenceran tenaga kerja dan persaingan tidak sehat, mereka menyerap thMempengaruhi prasangka warna dari tatanan kolonial dan mengidentifikasi diri mereka dengan setiap upaya untuk membuat orang Afrika dan Asia tunduk. Dengan menggunakan kombinasi serikat pekerja, tekanan politik, pemogokan dan kekerasan fisik, mereka mendapatkan para penambang kulit putih dan pekerja pengrajin yang terlindung pekerjaan yang memotong mereka dari sesama pekerja Afrika dan mengisi mereka dengan kebanggaan dan arogansi kebanggaan yang berlebihan. Partai Buruh mengembara ke sentimen ini, gelisah untuk waralaba serba putih, dan memperjuangkan pemilihan dengan platform supremasi kulit putih. Itu adalah kebanggaan bangga pihak itu bahwa yang pertama mengusulkan pemisahan total rasial. Dan memang, dengan masuk ke dalam koalisi dengan nasionalisme Afrikaner pada tahun 1924, Partai Buruh memungkinkan partai Nasionalis untuk menduduki jabatan dan meletakkan fondasi apartheid.

Sayap kiri Labour berdiri melawan kecenderungan ini, menolak untuk meninggalkan prinsip-prinsip sosialis untuk bagian dari kekuatan putih. Penolakan terhadap chauvinisme rasial ini lebih luar biasa karena berasal dari inti gerakan, dari pendiri dan pemimpin serikat buruh dan partai Buruh itu sendiri. Pada mulanya mereka juga, seperti rekan-rekan konservatif mereka, memohon terutama kepada pekerja kulit putih, tetapi dengan suatu perbedaan. Sementara kaum konservatif menjadikan sosialisme berfungsi sebagai dalih untuk diskriminasi, kaum radikal berpegang pada konsep solidaritas kelas; dan bersikeras bahwa antagonisme rasial sebenarnya adalah varian atau sub-spesies dari konflik kelas. Itu adalah sebuah ideologi untuk kelas pekerja yang matang, tetapi membuat dampak terbesarnya pada proletariat Afrika dan Warna yang baru, dan bahwa hanya setelah kaum radikal meninggalkan Buruh Putih. Tiga peristiwa khususnya - Perang Dunia Pertama, Revolusi Rusia, dan Pakta Pemerintahan tahun 1924 - mengeksternalisasi unsur radikal dan membebaskannya dari obsesi Labourisme dengan politik parlementer putih. Perang memicu perpecahan dalam partai Buruh dan mengarah pada pembentukan Liga Sosialis Internasional. Dalam menentang perang, Liga bergerak dari kecaman umum terhadap imperialisme ke pemeriksaan khusus tentang pengaruhnya pada struktur sosial Afrika Selatan. Radikal memperoleh wawasan baru ke dalam hubungan antara divisi kelas dan warna; mereka mulai mengklaim bahwa orang-orang Afrika bukanlah pesaing para pekerja kulit putih, tetapi sekutu-sekutunya yang potensial, yang tanpa mereka tidak dapat mencapai emansipasinya sendiri.

 Revolusi Oktober menambahkan dimensi baru teori Marxis-Leninis dan mengilhami pembentukan partai Komunis. . Selama inkubasinya, kaum sosialis mengambil langkah menentukan melintasi garis warna. Mereka membentuk hubungan yang lemah dengan nasionalisme Afrika, dan meletakkan dasar serikat buruh Afrika. Kemudian, ketika bergabung dengan gerakan revolusioner dunia melalui Komunis Internasional, partai itu memperoleh peralatan ideologis yang diperlukan untuk mengatasi kompleksitas masyarakat yang terbagi menjadi kelas-kelas, ras, dan kebangsaan yang antagonistik. Penentu kebijakan partai yang penting adalah rumusan Internasional untuk mewujudkan sintesis antara gerakan pembebasan kelas pekerja dan nasional di koloni-koloni. Pemandangan baru dibuka. Komunis menyelesaikan transisi mereka ke sebuah partai yang benar-benar non-rasial - yang pertama di Afrika - dan mengorientasikan diri mereka dalam teori dan praktik ke perjuangan untuk kesetaraan ras. Perubahan terjadi secara bertahap dan dengan banyak ketegangan internal. Komunis yang telah menghabiskan kehidupan kerja mereka dalam gerakan buruh tidak dapat dengan mudah melepaskan diri dari pekerja kulit putih. Teori mereka dan beberapa pengalaman, khususnya dalam revolusi Rand tahun 1922, meyakinkan mereka bahwa dia berpotensi menjadi kekuatan paling revolusioner di negara ini. Orang Afrika, sebaliknya, tampaknya tidak teratur, terbelakang secara politik, dan lebih tanggap terhadap nasionalisme daripada sosialisme.

Tampak jelas bagi sebagian komunis bahwa pekerja kulit putih adalah instrumen alami untuk mengelas orang-orang Afrika ke dalam kelas proletar yang sadar-kelas; dan itu adalah peran partai untuk membuat keduanya sadar akan misi historis mereka. Pemerintahan Nasionalis-Buruh tahun 1924-8 menghancurkan keyakinan itu. Labourisme mengalami perubahan permanen, menjadi sepenuhnya terserap dalam struktur kekuasaan putih, dan berhenti beroperasi sebagai kekuatan politik independen. Komunis terus memproklamasikan keyakinan mereka pada kemenangan persatuan kelas pekerja. Tetapi pada tahun 1928 mereka mengadopsi perspektif dramatis dari Republik Hitam, yang menempatkan mereka tepat di sisi pembebasan nasional. Selama dua dekade berikutnya kaum komunis bekerja sama atau berkompetisi dengan gerakan pembebasan dalam berbagai fase protes dan perjuangan. Tugas utama mereka adalah membubarkan antagonisme rasial, suku dan nasional dalam kesadaran kelas bersama, dan mengembangkan strategi aksi massa melawan dominasi kulit putih. Ini adalah upaya yang luar biasa yang menuntut banyak pengabdian pribadi dan organisasi pasien yang susah payah dalam tahap-tahap pertama industrialisasi. Menjadi orang Afrika dan komunis harus menanggung risiko menjadi korban atas kedua hal itu; dan hanya mereka yang memiliki keyakinan ideologis yang kuat akan menghadapi tantangan. Ada rintangan lain yang lebih serius terhadap penerimaan konsep-konsep Marxis.

Tekanan gigih buruh putih untuk batang warna industri, program segregasinya dan rasisisme fanatik telah mengasingkan para pemimpin Afrika dan Berwarna. Tidak dapat merekonsiliasi teori-teori kelas dengan perilaku pekerja kulit putih, ini meragukan keaslian visi sosialis atau menganggapnya terlalu jauh untuk menjadi panduan yang baik untuk bertindak. Mereka lebih menyukai liberalisme radikal untuk sosialisme radikal. Beberapa komentator menelusuri preferensi terhadap pengaruh kaum borjuis Afrika. Jika itu adalah faktor, efeknya hampir tidak dapat diabaikan. 'Kelas menengah' terdiri dari pedagang kecil, kontraktor bangunan, pemilik perusahaan bus atau usaha kecil lainnya di kota-kota terpisah. Ditempel di tempat-tempat termiskin, kekurangan modal, tidak mampu membeli tanah atau bersaing dengan orang kulit putih di pasar terbuka, para pengusaha Afrika secara virtual berkewajiban untuk menghindari pengekangan hukum yang diskriminatif dengan menggunakan dalih dan ilegalitas. Kondisi mereka membuat mereka sangat rentan terhadap tekanan resmi dan menolak partisipasi aktif dalam politik. Bahkan, beberapa pengusaha memainkan peran utama dalam Kongres Nasional Afrika. Para pemimpin Kongres adalah kaum intelektual dan anggota serikat pekerja, tetapi serikat pekerja terlalu lemah untuk mengatur langkahnya. Para klerus, pengacara, penulis, dokter, guru, juru tulis dan kepala yang mendirikan Kongres atau yang memutuskan kebijakannya adalah konstitusionalis. Dipengaruhi oleh pendidikan, posisi sosial dan kebijaksanaan untuk konsep perubahan bertahap, mereka bercita-cita untuk kesetaraan politik dalam kerangka pemerintahan parlementer. Nasionalisme Afrika berawal dari pembelaan terhadap waralaba non-rasial Cape atau dalam permintaan untuk perluasannya ke provinsi utara. Anteseden meninggalkan bekas.

Di tempat lain di Afrika, pembebasan nasional berarti transfer otoritas politik dari pemerintah kekaisaran eksternal; di Afrika Selatan itu ditafsirkan sebagai pembagian kekuasaan dengan minoritas kulit putih. "Kami, orang-orang Afrika," kata Kongres dalam Bill of Rights-nya pada bulan Desember 1945, "sangat menuntut pemberian hak kewarganegaraan penuh seperti dinikmati oleh semua orang Eropa di Afrika Selatan." Itu adalah permintaan berdasarkan doktrin kedaulatan rakyat : hak pilih dewasa universal, perwakilan langsung di parlemen, dan persamaan di depan hukum. Kongres adalah gerakan liberal radikal yang tidak pernah membayangkan apa pun yang begitu luas jangkauannya seperti sosialisasi tanah, tambang, pabrik dan bank. Liberalisme revolusioner terpancar dari institusi dan nilai-nilai Inggris, dan menerima dukungan dari bagian-bagian dari pusat berbahasa Inggris. kelas; tapi itu tidak lebih diterima daripada sosialisme radikal untuk supremasi kulit putih. Para elit Afrika termasuk laki-laki dan perempuan yang akan meningkat menjadi eminensia dalam masyarakat terbuka; namun semua terdegradasi oleh alasan ras ke status sipil lebih rendah daripada ras putih paling jahat. Apakah wageworker atau petani, pengusaha atau profesional, intelektual atau kepala, tidak ada orang Afrika yang diterima di parlemen, dewan kota, tentara, pegawai negeri, pertambangan dan rumah keuangan, atau jabatan manajerial dan teknis. Semua orang Afrika mengalami penghinaan dan efek membatasi undang-undang lewat, klasifikasi rasial, pemisahan perumahan, dan diskriminasi dalam kehidupan publik. Tidak ada yang bisa lolos dari sanksi koersif negara.

Kongres Nasional Afrika berbicara untuk seluruh penduduk Afrika ketika disajikan klaim kewarganegaraan penuh. Prestasi Kongres cukup besar. Ini mengungkap mitos superioritas kulit putih dan mencegah mereka dari pengerasan menjadi tabu suci. Itu membuat semangat perlawanan tetap hidup dan mencegah orang-orang Afrika agar tidak tenggelam ke dalam kondisi kepatuhan, penolakan apatis dalam kekuatan putih. Ini membangkitkan kesadaran nasional yang melampaui hambatan bahasa, kesukuan, provinsi dan kelas. Ini memberi martabat orang-orang, kebanggaan pada warisan budaya mereka, dan tekad untuk mendapatkan kembali tanah dan kebebasan mereka. Dengan menolak berkompromi, atau menerima kurang dari total integrasi ke dalam seluruh jajaran lembaga politik dan ekonomi, Kongres menanggalkan Afrika Selatan dari kepura-puraan kemanusiaan dan mengungkap wajah nyata apartheid bagi seluruh dunia untuk dilihat. Kongres kurang berhasil dalam berurusan dengan masalah cara dan sarana. Perspektif strategis yang jelas tidak pernah muncul dari diskusi berulang tentang keluhan dan tujuan. Ucapan yang berapi-api, resolusi yang kuat, perwakilan dan petisi memiliki nilai edukatif, namun tidak ada kelegaan. Hampir setengah abad protes dan seruan hanya menghasilkan lebih banyak penindasan, diskriminasi yang lebih besar. Komunis dan sayap kiri sendiri mendesak Kongres untuk mengadopsi organisasi akar rumput berdasarkan cabang dan sel lokal; dan untuk memobilisasi orang-orang untuk pembangkangan sipil, pemogokan politik, perlawanan pasif dan pembangkangan hukum yang tidak adil. Inti utama dari CoKemajuan kepemimpinan tetap kecanduan, bagaimanapun, untuk politik semacam itu, sesuai untuk sebuah partai yang bersaing untuk suara, bertindak sebagai anodyne nakal pada orang-orang yang, menjadi voteless, selalu menjadi korban dan tidak pernah pembuat kebijakan.Pemerintahan parlemen dalam masyarakat rasial bertingkat membuat kepentingan putih penting. Jika hak pilih universal menghasilkan negara kesejahteraan di bawah kapitalisme, hak pilih kulit putih melahirkan di bawah kolonialisme ke negara bar warna. Sebuah partai politik yang hanya mengimbau para pemilih kulit putih selalu membuat klaim mereka sebagai batu ujian kebijakan, memainkan ketakutan kolektif mereka terhadap kekuatan hitam, menggairahkan dan memperkuat antagonisme rasial mereka, dan mengkonsolidasikan mereka menjadi sebuah blok hegemonik yang bertentangan dengan mayoritas yang voteless. Selama orang Afrika dan Coloured mempertahankan pijakan dalam sistem parlemen Cape, mereka mungkin berharap untuk mendapatkan dukungan dari satu atau kandidat lain untuk mencari suara. Penghapusan orang Afrika dari gulungan umum pada tahun 1936, bagaimanapun, hampir menghilangkan kemungkinan bahwa setiap partai besar akan berusaha menciptakan konsensus putih dan hitam. Polarisasi yang dihasilkan menyerukan pendekatan baru oleh Kongres: penekanan pada strategi daripada pada tujuan. Sesuai dengan permintaan untuk penilaian kembali ini, pertanyaan strategi mendominasi diskusi dan menjadi penyebab utama pertikaian di semua bagian dari gerakan pembebasan selama dekade berikutnya. Untuk sementara waktu, pada saat serangan terhadap waralaba Cape, tampaknya seolah-olah orang Afrika akan keluar dari orbit parlementer dan mengadopsi strategi perlawanan massa terhadap dominasi kulit putih. Prospek surut ketika para pemimpin terlibat dalam pemilihan ‘perwakilan pribumi’ putih ke parlemen dan orang Afrika ke Dewan Perwakilan Asli. Beberapa tahun kemudian, ketika komunitas Berwarna menghadapi ancaman pertama segregasi politik, sekelompok intelektual bereaksi dengan meluncurkan kampanye untuk memboikot lembaga-lembaga yang terpisah-pisah. Meskipun tidak berhasil secara taktis, kampanye ini mendorong kaum muda radikal untuk mencari metode perjuangan yang lebih berani dan lebih imajinatif daripada pidato dan perwakilan. Masalah ini datang secara tajam ke depan lagi pada tahun 1946, ketika Natal dan Indian Transvaal, menghidupkan kembali satyagraha Gandhi, meluncurkan kampanye perlawanan pasif terhadap segregasi perumahan wajib.

Pada saat yang sama, pemogokan besar para penambang Afrika di Witwatersrand, diikuti oleh penuntutan para pemimpin partai Komunis dan penolakan anggota Dewan Perwakilan Asli untuk bekerja sama dengan pemerintah, memberikan dorongan besar lain untuk permintaan aksi massa. Sebuah proses fertilisasi silang ditetapkan dalam yang memegang janji persatuan di antara orang Afrika, berwarna dan Indians.The kemenangan parlemen nasionalisme Afrikaner pada tahun 1948 menandakan pembalikan tren pasca-perang terhadap dekolonisasi di Asia dan Afrika. Pemerintahan baru menggabungkan otokrasi kolonial lama dengan kapitalisme industri dalam program totalitarianisme rasial. Serangkaian undang-undang yang diskriminatif menyelesaikan pemisahan orang Afrika, Berwarna dan India; menguranginya ke tingkat subordinasi yang sama; dan mengkonsolidasikan kulit putih ke dalam satu blok kekuasaan. Dimulai dengan Penindasan Komunisme Act of 1950, yang melarang semua ekspresi perbedaan mendasar serta partai Komunis, pemerintah telah menggunakan teknik koersif dari pemerintahan kolonial untuk membungkam dan menekan lawan radikalnya.

Dikecualikan dari pengamanan proses peradilan, mereka telah terdaftar sebagai komunis; dilarang dari serikat buruh dan organisasi politik; diasingkan ke daerah terpencil dan terpencil; ditempatkan di bawah tahanan rumah; atau dipenjara untuk waktu yang lama tanpa pengadilan. Penindasan total membangkitkan resistensi total. Memerah dengan sukses, yakin kemampuannya untuk mengumpulkan sebagian besar kulit putih di balik kebijakan apartheid, dan menghina kehendak atau kapasitas Afrika untuk melawan, pemerintah melancarkan serangan kejam pada juara dari masyarakat terbuka, non-rasial . Mereka mengambil tantangan dengan menggunakan perjuangan massal. Nasionalis radikal dan sosialis radikal di kedua sisi garis warna bergabung dalam aliansi Kongres Afrika, Kongres India, Kongres Berwarna dan partai Komunis. Kampanye pembangkangan dan pemogokan nasional menyebabkan pembantaian Sharpeville tahun 1960. Ini menandai titik balik lain. Parlemen dilarang Kongres Nasional Afrika dan Kongres Pan Afrika, mendorong gerakan pembebasan bawah tanah, dan berkomitmen untuk strategi pemberontakan, perang gerilya dan invasi bersenjata.


Romeltea Media
SAMPA Updated at:

 
back to top