![]() |
| Ilustrasi: Imperialisme |
Artikel ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, tentang
garis besar teori Lenin dan gagasan-gagasan kuncinya yang dibutuhkan untuk
diterapkan pada kondisi saat ini. Bagian akhir, bagaimana menerapkan kerangka
teori Leninis untuk menunjukkan bahwa Cina bukan lah kekuatan imprealis yang
sedang bangkit, dan bahkan perkembangan sepenuhnya sebagai ekonomi kapitalis
pun dihalangi oleh imprealisme. Sebelum mengamati Cina, bagaimanapun juga, kita
harus membuang kesalahpahaman yang menyebabkan kaum Marxis tidak mau
menggunakan teori Lenin dan mendorong kita mengabaikan Lenin karena dianggap
suatu kesalahan, sehingga ditanggalkan atau disingkirkan. Banyak pihak yang
menyelewengkan Lenin. Dalam hal ini, akademisi Marxis, secara keseluruhan,
adalah yang paling bersalah ketimbang pihak manapun. Bagaimanapun juga, gagasan
yang dimiliki oleh kaum Marxis yang aktif secara politik memiliki konsekuensi
yang sangat penting. International Socialist Tendency (IST) adalah aliran
(tendensi) Marxis yang paling kuat aktivitasnya di dunia berbahasa Inggris saat
ini (di luar India). Jadi, bagian kedua akan berfokus pada kesalahpahaman dari
tradisi tersebut dan dari berbagai penulis yang, pada saat tertentu, memiliki
kaitan dengannya.
Teori Lenin di Abad 21
Teori imprealisme Lenin memusatkan diri pada penjelasan
tentang eksploitasi (penghisapan) yang sistematis terhadap negeri-negeri
terbelakang (yang, secara secara ekonomi, miskin) oleh modal monopoli yang,
terutama, berbasis di negeri-negeri kaya. Dalam kerangka-pikir Lenin, perang
antar-imperialis bersifat sekunder dalam mengisap negeri-negeri yang, secara
ekonomi, miskin, karena semua perang tersebut pada akhirnya ditujukan untuk
menciptakan kembali batas-batas dan syarat-syarat penghisapan tersebut.
Bagi Lenin, kunci untuk memahami imprealisme adalah monopoli.
Dia berpendapat: “Jika memang butuh untuk memberikan kemungkinan definisi
singkat tentang imprealisme, kita harus mengatakan bahwa imprealisme adalah
tahap monopoli kapitalisme. Definisi tersebut akan mencakup hal yang paling
penting.” Lenin menguraikan lima ciri utama karakteristik impreliasme pada awal
abad 20. Lima ciri utama watak impreliasme pada awal abad 20.(Dan monopoli
merupakan inti dari kelima ciri tersebut.) Yaitu:
1. transisi dari persaingan bebas menuju monopoli;
2. di atas landasan tersebut, terjadilah pembentukan trust,
kartel, bank, dan penggabungan ke dalam bentuk baru, yang lebih tinggi dari
monopoli—kapital (modal) finansial;
3. ekspor modal menjadi lebih sangat penting dibandingkan
ekspor komoditas (barang dagangan);
4. pembagian dunia di antara perusahaan-perusahaan monopoli
internasional dimulai;
5. Tuntasnya pembagian dunia di antara kekuatan-kekuatan
besar.
Namun, sejak Lenin menuliskannya, beberapa bentuk monopoli
telah berubah.
Lenin memiliki pemahaman bernuansa monopoli. Ia tidak pernah
menyatakan secara spesifik bentuk-bentuk monopoli (dilihat dari tahap-tahap
teknis tertentu) yang mencerminkan “perkembangan” tertitinggi yang bisa
diwjudkan oleh monopoli. diwakili oleh “negara” yang mengambil-alih peran
monopoli. Bukharin membuat kesalahan karena lebih menitik-beratkan pada
intervensi (campur-tangan) negara secara langsung sebagai bentuk umum pada
masanya, yang dianggap sebagai perkembangan tertinggi dan tak terelakkan dari
monopoli kapitalis. Perusahaan “Trust kapitalis negara” sebagaimana yang
dikatakan Bukharin, di era modern sekarang ini, sebagian besar telah digantikan
oleh perusahaan-perusahaan swasta multinasional (MNC). Yakni monopoli kapitalis
swasta yang didukung oleh negara dan oligopoli.
Fleksibilitas (keluwesan) pendekatan Lenin dapat dilihat,
misalnya, saat memahami kolonialisme. Bila pendekatan “trust kapitalis negara”
yang menjadi landasan-pikir, atau bila terlalu literal (harfiah) memahami lima
lima ciri imprealismenya Lenin, maka kita akan berpendapat bahwa imprealisme
memerlukan kekuasaan kolonial. Namun, Lenin berkali-kali menyatakan sebaliknya,
seperti yang akan dibahas di bawah ini.
Teori Lenin telah terbukti menjadi instrumen yang sangat
fleksibel untuk memahami imprealisme saat ini. Dalam menerapkannya bukan
berarti menghapalkan setiap baris bukunya, tapi sebaiknya dengan mempelajari
(lebih dalam) bukunya dan memahami bentuk-bentuk khusus monopoli kontemporer
(masa kini). Dengan demikian, kita bisa mengungkapkan cara modern bagaimana
nilai dihisap dari negeri-negeri miskin oleh modal imperialis.
Perusahaan Multinasional (MNC) modern merupakan bentuk lebih
tinggi dari kapitalis monopoli, ketimbang kartel dan trust pada masa Lenin.
Itulah penguatan, bukan pelemahan, monopoli kapitalis yang membuat kadar
penguasaan oleh swasta yang lebih besar menjadi mungkin. Dalam kapitalisme yang
lebih awal, negara (atau milisi swasta dan semi-swasta, dan lainsebagainya)
harus menghilangkan kelemahan hubungan komoditas kapitalis yang terbelakang.
Monopoli perizinan negara seperti oleh Inggris dan Hindia Belanda justru
memberikan jalan bagi bentuk yang lebih tinggi dalam pertukaran komoditas.
Perbudakan digantikan dengan upah buruh. Koloni memenangkan kemerdekaan
politik. “Trust negara kapitalis” Bukharin tersebut sekarang digantikan oleh
perusahaan-perusahaan multinasional. Hal tersebut mencerminkan segala kemajuan dalam
hubungan produksi kapitalis.
Era neoliberal menggambarkan keunggulan pokok monopoli swasta
ketimbang kepemilikan negara. Perusahaan swasta dapat memiliki hubungan yang
lebih fleksibel dengan negara. Mereka dapat meminta intervensi negara saat
mereka mengalami krisis, sehingga mengizinkan perusahaan MNC untuk
mensosialisikan kerugiannya (agar ditanggung negara), sambil menswastakan
keuntungan mereka. Kapitalis juga mendapatkan jaminan keamanan yang jauh lebih
besar bila bisnisnya dijalankan sebagai milik pribadi.
Subsidi negara untuk modal swasta dinormalisasi melalui
kolaborasi (kerjasama) “perpanjangan tangan”, misalnya, “kemitraan
publik-swasta”. Subdisi negara secara tidak langsung diberikan agar
produktivitas tenaga kerja dan perkembangan teknologi yang tinggi terjadi
melalui universitas dan lembaga-lembaga keilmuan lainnya yang disponsori
negara, serta lembaga teknis lainnya. Melalui cara tersebut, produktivitas
tenaga kerja yang lebih tinggi di negeri-negeri utama imprealis menjadi kunci
dari monopoli yang dikerahkan oleh perusahaan multinasional di pasar
internasional. Hal ini dicapai oleh perusahaan multinasional dengan sangat
terorganisir, yang dikombinasikan dengan negara-negara kapitalis yang lebih
makmur dan maju.
Ketidaksetaraan Pertukaran Monopolistik
Saat ini, pertukaran nilai yang tidak setara di pasar
internasional antara buruh yang berproduktivitas tinggi, yang bekerja di bawah
syarat-syarat kerja “Dunia Pertama”, dengan buruh “Dunia Ketiga”, yang sangat
jauh kurang produktif, adalah mekanisme kunci transfer kemakmuran dari
negeri-negeri miskin ke negeri-negeri kaya. Lenin tidak secara spesifik
mengungkapkan konsep ketidaksetaraan pertukaran di dalam bukunya tentang
imprealisme, tapi konsepnya adalah teori pokok tentang nilai, yang ditulis Marx
dalam bukunya, Capital. Sebagai contoh, teori “harga produksi” sudah
mengungkapkan ketidaksetaraan pertukaran kerja antara modal dalam komposisi
organic yang berbeda-beda. Meskipun Marx tidak mengantisipasi bentuk-bentuk
khusus dari ketidaksetaraan pertukaran di pasar dunia setelah 150 tahun
kematiannya, poin-poin imprealisme Lenin pun mengalami hal yang sama sehingga,
kemudian, kaum Marxis pun sekadar melafalkannya belaka.
Pada tahun 1972, seorang Marxis Belgia, Ernest Mandel,
menunjukkan bahwa pertukaran yang tidak setara telah menjadi mekanisme utama
untuk menghisap nilai yang diciptakan oleh buruh Dunia Ketiga pada periode
pasca perang. Mandel (dan sebelumnya Grossman) menunjukkan bahwa teori
pertukaran yang tidak setara telah diformulasikan oleh Marx. Mandel
mengaplikasikan teorinya pada pasar dunia di tahun 1970-an untuk menunjukkan
bahwa, meskipun terjadi penurunan relatif dalam ekspor modal dari negeri kaya
ke negeri miskin pada saat itu (sesuatu yang kemudian menjadi sebaliknya),
tidak ada akhir bagi penghisapan nilai tersebut. Perusahaan multinasional
semakin mampu untuk merampas nilai tanpa kesulitan harus melakukan investasi
langsung. Kecenderungan yang sama terus berlanjut hingga hari ini karena banyak
jalur produksi yang semakin “di-outsourcing-kan” (dialih-dayakan) kepada
pemasok independen, sedangkan perusahaan multinasional “berhemat” dan
berkonsentrasi pada monopoli “kompetensi (kemampuan) pokok”, seperti diuraikan
di bawah ini.
Doug Lorimer menguraikan secara spesifik mekanisme yang
digunakan (oleh negara imperialis dan perusahaan multinasional dalam “pasar
bebas” di era globalisasi neoliberal) untuk membangun posisi monopol yang
stabil. Bagi Lorimer, “sejarah kapitalis monopoli adalah, pada saat yang sama,
merupakan sejarah penguatan masing-masing negara imperialis dan penggunaannya
untuk memajukan kepentingan kaum kapitalis finansial negerinya sendiri di pasar
dunia”.
Lorimer mencatat: “segala inovasi teknologi utama dalam 50
tahun terakhir ini diciptakan dan dikembangkan pada awalnya untuk berperang
(atau mempersiapkan diri untuk berperang) oleh para peneliti yang bekerja untuk
departemen militer negara imprealis… Defisit pemerintah secara massif
dihabiskan untuk mengembangkan barang-barang kebutuhan perang, persenjataan,
selama Perang Dunia II dan Perang Dingin, yang menciptakan hampir semua inovasi
teknologi pada paruh abad 20.” Keuntungan dari pemasaran teknologi ini (seperti
mikrowave, internet, radar) dibagi di antara perusahaan-perusahaan
multinasional, sementara tanggungjawab dan biaya untuk pengembangannya
diambil-alih oleh negara.
Subsidi negara untuk mengembangkan produktivitas tenaga kerja
yang tinggi umumnya diberikan kepada lembaga-lembaga negara seperti
universitas. Hubungan antara negara dengan modal swasta yang intim tersebut
menjelaskan mengapa perusahaan multinasional tidak meluas secara global,
seperti yang dahulu pernah populer dipercaya. Hal itu juga menjelaskan mengapa
produksi berteknologi tinggi semakin terkonsentrasi di negara-negara
kaya—sementara, sensasi yang menyesatkan menunjukkan sebaliknya.
Berbekal teknologi terbaik, produktivitas tenaga kerja
tertinggi dan didukung oleh organisasi yang paling kuat di planet ini—negara
imperialis—selain berkompetisi di antara mereka sendiri, perusahaan
multinasional di pasar dunia menghadapi produsen non-monopoli, menguasai
teknologi yang sebenarnya dan mudah direproduksi atau diproduksi oleh
perusahaan multinasional itu sendiri. Sebagian besar perusahaan non-monopoli
tersebut mengerjakan bagiannya yang sederhana, proses produksi “massal” untuk
menghasilkan barang-barang non-monopoli. Perusahaan-perusahaan multinasional
dapat mendikte baik pembelian maupun harga jual dalam perdagangan mereka dengan
produsen non-monopoli. Dengan demikian, produsen non-monopoli diperbolehkan
mengambil keuntungan yang sekadar memadai untuk kelangsungan hidup mereka.
Sisanya, dari nilai yang dihasilkan oleh para pekerja di perusahaan-perusahaan
tersebut, dirampas oleh perusahaan multinasional.
Dengan demikian, produksi monopoli modern tidak meniadakan
pasar tapi memperluasnya. Bahkan, dalam lingkup “persaingan bebas”, diperluas
ke daerah berteknologi rendah di mana monopoli yang stabil tidak dapat
dibangun. Bagaimanapun juga, “persaingan bebas” hanya ada di bawah kendali dan
disubordinasikan kepada monopoli serta persaingan monopoli. Semuanya, kecuali
produksi berteknologi tinggi, semakin didorong ke ranah persaingan bebas yang
subordinat (dikendalikan). Dengan kata lain: “bebas” bersaing memperebutkan
remah-remah (recehan).
Ekspansi besar-besaran pasar dunia selama 30 tahun terakhir
ini, termasuk pelipatgandaan angkatan kerja global, telah menciptakan lautan
tenaga kerja untuk dihisap oleh perusahaan multinasional demi perluasan
keuntungannya, bahkan tanpa diawasi secara langsung. Hal itu terutama terjadi
di Cina. Produksi komoditas kapitalis yang berkembang pesat di Cina adalah
produksi non-monopoli. Perusahaan yang melakukan “produksi missal” secara
sederhana, yang tidak mereka monopoli sendiri, karenanya tidak dapat menetapkan
harga. Mereka harus menjual dengan harga yang ditentukan oleh perusahaan
multinasional. Hal itu membuat mereka menjadi kapitalis yang kerempeng, kere—berkeuntungan
kecil.
Perusahaan multinasional yang didukung oleh negara imprealis
semakin besar dan dominan dalam memegang monopoli pengetahuan dan teknologi di
pasar internasional, menghisap nilai dari produsen non-monopoli, tidak memiliki
arti apapun selain: sebuah sistem global yang saya sebut “ketidaksetaraan
pertukaran monopoli”.
Pembagian kerja internasional yang modern dan yang sangat
terspesialisasi terkait erat dengan “globalisasi” produksi, yang lebih sempurna
mengungkapkan karakter monopoli imperialis dari bentuk yang sebelumnya kurang
maju. Pada masa Lenin, monopoli didasarkan terutama pada pemindahan lokasi fisik
mesin-mesin imprealis yang paling pokok. Dalam kasus saat ini, mesin yang
paling canggih ditahan, sisanya sering dipindahkan ke negeri berupah-rendah.
Terdapat kecanggihan yang lebih tinggi dalam pembagian kerja modern: produksi
yang “dicacah-cacah kecil“ ke dalam aspek yang dibeda-bedakan dan diorganisir
sesuai dengan tingkat kecanggihannya (kesulitan). Dengan demikian,
“globalisasi” dalam beberapa dekade terakhir, lebih lengkap memisahkan
kapasitas ilmiah dan teknologi (yang secara umum) merupakan pekerjaan kasar
atau tenaga kerja berketerampilan rendah. Sejauh mungkin, memisahkan ilmu itu
sendiri—murni, hanya mengejar pengetahuan praktis yang disediakan dalam bantuan
kemajuan teknis atau budaya—dari proses produktif biasa (yang sudah ditetapkan
dan, dengan demikian, relatif berketerampilan rendah).
Bentuk monopoli modern mencerminkan dengan lebih baik bahwa
pengetahuan ilmiah, dan aplikasi canggih untuk produksi, terkonsentrasi, pada
akhirnya, tidak dalam benda-benda fisik tapi di dalam diri manusia dan
interaksi manusia dengan objek lainnya. Maksudnya: itulah monopoli tenaga kerja
oleh pekerja yang paling berpendidikan tinggi, baik oleh negara-negara
imperialis maupun perusahaan multinasional, yang membentuk basis utama dan
paling stabil bagi reproduksi imperialis. Oleh karenanya, pemindahan aparatus
industri jenis tertentu ke Cina dan negeri-negeri miskin lainnya (meskipun
besarannya berlebihan) tidak merusak reproduksi monopoli dalam ekonomi
imperialis selama reproduksi aspek yang paling tinggi masih di kendalikan oleh
inti imperialis. Sebagai contoh-contoh kasus, segunung bukti dapat menunjukkan
hal tersebut.
Pandangan IST tentang imprealisme dan Lenin
Para penulis utama teori imprealisme dalam tradisi IST, Mike
Kidron, Chris Harman dan Alex Callinicos, menciptakan aliran teoritis yang
runut yang mengajukan posisi umum bagi seluruh pertanyaan mendasar. Inovasi
teoritis Kidron dirintis pada 1962, yang ditegaskan kembali oleh Harman dan
Cllinicos, sehingga menciptakan kesinambungan tertentu di dalam IST berdasarkan
inovasi teori Kidron yang asli tersebut. Sesudah Kidron keluar dari IST,
Harman, sampai dengan kematiannya pada tahun 2009, adalah teoritisi imprealisme
yang paling berpengaruh. Karyanya yang paling penting, Analysing Imperialism
(menganalisa Imprealisme), mempengaruhi IST dan beberapa kelompok yang tidak
lagi di dalam tendency secara internasional.
Eksploitasi Dunia Ketiga
Para penulis IST mengklaim telah menegakkan teori
imperialismenya Lenin (kadang-kadang menggambarkannya sebagai teori
“Lenin-Bukharin”) tapi, sebenarnya, menolak kesimpulan Lenin yang paling
mendasar—bahwa imperialisme adalah tentang eksploitasi sistematis negeri-negeri
terbelakang oleh modal dari negara-negara inti imprealis. Kesimpulan mendasar
Lenin tersebut diselewengkan dengan, secara berlebihan, lebih menekankan pada kompetisi
antar- imperialis, yang dipahami melalui prisma konsep monopoli negara
kapitalis ala IST.
Penyajian yang tidak tepat tentang teori Lenin (dan teori
Bukharin) yang diterapkan dalam berbagai isu, pada akhirnya, akarnya adalah
karena mereka menolak makna eksploitasi yang sistematis. Harman berargumen
bahwa posisi tersebut dibutuhkan untuk memerangi “nasionalisme kiri”, yang
“mengalihkan perhatian dari dinamika sentral sistem dunia dan yang, dalam
banyak hal, analisanya lebih dilandaskan pada apa yang terjadi di lokasi
akumulasi yang sangat penting, pada investasi asing, dan pada perdagangan”. Di
tempat terjadinya eksploitasi, yakni di negeri-negeri miskin, para penulis IST
lebih menekankan “persaingan antar-imprealis” dan bentrokan antara kekuatan adi-kuasa
yang, menurut dalihnya, terutama bertujuan mengamankan bahan baku dan secara
langsung mengambil-alih kendali ekonomi dari kekuatan adi-kuasa lain. Namun,
belum ada perang yang berlangsung antara “negeri-negeri industri mapan” selama
70 tahun terakhir ini.
Harman berpandangan, “Sebagai besar negeri Dunia Ketiga,
termasuk hampir seluruh Afrika dan banyak negeri Amerika Latin (di luar Brazil
dan Meksiko), mengalami penurunan penting ekonomi dalam dinamika sistem secara
keseluruhan. Keuntungan dan pembayaran bunga dari daerah-daerah tersebut
hanyalah seperti lapisan krim bagi kue dunia kapitalis, bahkan besarnya tidak
sampai sepotong kue itu sendiri”, sementara, “sumber utama nilai lebih di dunia
ada di negeri-negeri maju’. Lenin dimunculkan seolah mendukung posisi tersebut.
Tapi, bagi Lenin, “titik fokus dalam program Sosial Demokrat
harus bertumpu pada adanya pembelahan antara bangsa penindas dan bangsa yang
ditindas, yang membentuk esensi dari imprealisme.” Dua tahun kemudian, ia
menulis: “Akan menjadi bijaksana, mungkin, untuk menekankan secara lebih kuat
dan mengungkapkan dengan lebih jelas dalam program kita: keunggulan segelintir
orang paling kaya di negeri-negeri imperialis yang makmur yang, secara parasit,
merampok negeri-negeri koloni dan negeri-negeri yang lebih lemah. Itulah ciri
yang sangat penting dari imperialisme. Bagi Lenin, “kapitalisme tumbuh menjadi
sebuah sistem dunia penindasan kolonial dan yang, secara finansial, segelintir
negeri ‘maju’mencekik mayoritas penduduk dunia.” Imperialisme awal abad 20
menuntaskan pembagian dunia di antara segelintir negara yang, saat ini,
masing-masing melakukan eksploitasi (dalam makna penarikan keuntungan-super
dari) satu belahan di “seluruh dunia”.
Apapun kebenaran posisi Harman mengenai tidak pentingnya
eksploitasi terhadap negeri-negeri miskin demi imprealisme, namun hal itu tidak
dapat dikatakan memiliki kesamaan apapun dengan posisi Lenin.
Ekspor Kapital
Mungkin kesalahpahaman yang paling umum terhadap teori yang
diajukanLenin adalah bahwa imprealisme itu prinsipnya mengenai ekspor modal.
Harman berpendapat bahwa Lenin “nampaknya membuat seluruh teori imprealisme
bersandar pada peran-kunci bank dalam mengekspor modal finansial”.
Tapi Lenin tidak pernah menulis bahwa ekspor modal adalah
landasan bagi sandaran imperialisme. Karya-karyanya berulang kali dan secara
langsung menentang kesimpulan tersebut. Lenin mengurutkan lima ciri utama
imprealisme; ekspor modal hanya salah satunya. Daftar ciri imperialisme
tersebut memiliki hubungan sebab-akibat, ekspor modal muncul sebagai ciri
ketiga. Dalam 10 bab tulisan Lenin, masing-masing dari lima ciri tersebut
ditempatkan dalam satu pembahasan tersendiri. Dan bab “ekspor modal” adalah
yang terpendek dari semuanya, hanya 1.115 kata.
Di bab lain bukunya, Lenin menjelaskan tentang “kemungkinan
definisi singkat mengenai imperialisme”. Ekspor modal tidak disebutkan. Ia
berpendapat:
[I]mperialisme adalah tahap monopoli kapitalisme. Definisi
tersebut mencakup apa yang paling penting, untuk, di satu sisi, menjelaskan
bahwa modal finansial adalah modal bank dari beberapa bank monopoli yang sangat
besar, yang digabungkan dengan modal milik asosiasi monopoli industrialis; dan,
di sisi lain, penjelasan bahwa pembagian dunia merupakan transisi dari
kebijakan kolonial yang telah diperluas (tanpa hambatan) ke wilayah yang telah
direbut oleh kekuatan kapitalis (manapun), menjadi kebijakan kolonial monopoli
yang menguasai wilayah dunia yang telah benar-benar berhasil dibagi-bagi.
Dalam perdebatan revisi program Bolshevik pada tahun 1917,
Lenin secara eksplisit menentang proposal V. Sokolnikov yang mendefinisikan
prinsip imperialisme sebagai “ekspor modal”. Dalam pandangan Lenin, jika
program itu dimulai dengan karakterisasi imperialisme, “kita harus memulainya
dengan karakterisasi imprealisme secara keseluruhan—dan, dalam kasus ini, kita
harus tidak hanya mendefinisikan satu hal saja, “ekspor modal”. Dan keluhan
Lenin, “Definisi kawan Sokolnikov tentang imprealisme hanya sedikit saja
cakupannya (yakni ekspor modal)”.
Harman memperkenalkan kesalahpahaman kedua. Ia menegaskan:
Lenin menyatakan bahwa ekspor modal mengalir, terutama, dari negeri-negeri maju
menuju negeri-negeri terbelakang. Harman menulis bahwa hal itu adalah “titik
berangkat utama dari penjelasan Hobson-Lenin” saat pasca perang modal “arusnya
tidak dari negeri industrial ke negeri ‘terbelakang’. Arus modal melimpah ke
daerah di mana industri sudah ada.
Lenin tidak menekankan pentingnya arus modal ke negeri-negeri
terbelakang; namun, ia tidak percaya bahwa arus ekspor modal “sangat melimpah”
dari negeri maju ke negeri terbelakang. Lenin menyediakan tabel statistik yang
menjelaskan secara rinci ekspor modal berdasarkan tujuan ekspornya. Tabel yang
langsung dibantah oleh Harman. Mengomentari hal itu, Lenin mengatakan, “modal
Prancis diinvestasikan terutama di Eropa”, sementara modal Jerman “dibagi
(paling) merata antara Eropa dan Amerika”. Hanya dalam kasus Inggris, tabel
statistik Lenin memberikan pengakuan bahwa kapital mengalir terutama ke daerah
yang belum dikembangkan. Dalam hal itu, Lenin menulis, “daerah utama
investasi…berada di koloni-koloni Inggris” tapi, bahkan juga, termasuk di
negeri-negeri maju, seperti Australia dan Kanada.
Kolonialisme
“Masalah utama” teori Lenin bagi Harman dan para penulis IST
adalah: karena pendekatan Lenin yang sangat kuat lebih bertumpu pada penekanan
bahwa kekuatan Barat (sic) yang hebat mendorong adanya pembagian dan pembagian
kembali dunia di antara mereka yang, di satu sisi, mengarah pada perang dan, di
sisi lain, penguasaan kolonial secara langsung. Hal itu nyaris sulit diterapkan
pada situasi di mana kemungkinan perang di antara negara-negara Barat nampaknya
semakin mustahil dan koloni-koloni telah memperoleh kemerdekaannya.” itulah
kesalahpahaman lainnya. Lenin pernah menegaskan bahwa kolonialisme sangat
dibutuhkan bagi imperialisme:
Kecenderungan imperialis mengarah pada imperium besar yang
sepenuhnya harus dicapai dan, dalam prakteknya, sering dapat dicapai, dalam
bentuk sebuah aliansi antara negara imperialis dengan negara berdaulat—berdaulat
secara politik… Perjuangan nasional, pemberontakan nasional, peralihan
kekuasaan nasional sepenuhnya “dapat dicapai” dan dipenuhi dalam praktek
imprealisme.
Norwegia “meraih” hak untuk menentukan nasibnya sendiri di
era imperialisme yang paling merajalela yang, konon, seharusnya tidak dapat
dicapai pada tahun 1905 itu. Oleh karena itu, tidak hanya tak masuk akal, tapi
menggelikan, dari sudut pandang teoritis, untuk berbicara tentang
“ketidaksanggupan”… modal finansial Inggris bisa (tetap) “berjalan” di negeri
Norwegia sebelum maupun sesudah peralihan kekuasaan. Modal finansial Jerman
(tetap) “berjalan” di Polandia sebelum peralihan kekuasaan Polandia dari Rusia,
dan akan terus “berjalan” di di sana tak peduli apa status politik yang diperoleh
Polandia.
Lenin berpendapat: “Era imperialis tidak akan hancur baik
oleh kemerdekaan politik nasional ataupun “pencapaian” semacamnya selama dalam
batas-batas hubungan imperialis dunia. Di luar batas tersebut, bagaimanapun
juga, sebuah Republik Rusia atau, secara umum setiap transformasi demokratik di
manapun di dunia ini, ‘tidak bisa diraih’ tanpa serangkaian revolusi dan tidak
lah akan stabil jika tanpa sosialisme. Di sini Lenin lebih profetis dalam
mengantisipasi munculnya kebangkitan daerah-daerah koloni dalam perjuangan
pembebasan nasional.
Industrialisasi
Harman berpendapat bahwa posisi Lenin adalah bahwa “ekspor
modal ke negeri-negeri koloni akan mengakibatkan pembangunan industri negeri
koloni”. Untuk menguatkan hal itu, ia mengutip Lenin: “Ekspor modal
mempengaruhi dan sangat mempercepat perkembangan kapitalisme di negeri-negeri
di mana modal tersebut diekspor. Oleh karenanya, sementara ekspor modal bisa
jadi cenderung, dalam batas tertentu, menelikung pembangunan di negeri-negeri
pengekspor-modal, namun hal itu hanya dapat dilakukan dengan memperluas dan
memperdalam perkembangan lebih lanjut kapitalisme di seluruh dunia.”
Tapi, untuk menyimpulkan bahwa kutipan tersebut mendukung
pandangan Lenin—bahwa ekspor modal membawa industrialisasi—Harman harus percaya
bahwa “perkembangan kapitalisme” dan “industrialisasi” meripakan hal yang sama.
Melanjutkan pencampur-adukan yang sama, Harman menulis:
“Salah satu karya Lenin di masa awal, The Development of Capitalism in Russia
(perkembangan kapitalisme di Rusia), ditujukan kepada orang-orang yang
membantah kemungkinan perkembangan kapitalis. Ia terus bersikukuh di posisi
tersebut saat menulis Imperialism (imprealisme). Itulah keyakinan bahwa
perkembangan industri yang semakin [terkonsentrasi] di daerah-daerah koloni
membuat Lenin menggambarkan negeri-negeri kolonial sebagai ‘parasit’” Sekali
lagi, saat Lenin menyebut “kapitalisme”, Harman memahaminya sebagai
“perkembangan industri”.
Dengan tidak membuat perbedaan di antara keduanya, Harman
harus menyangkal kemungkinan bentuk pra-industri kapitalisme atau, setidaknya,
secara tersirat menyangkal bahwa kapitalisme tak terelakkan akan berkembang
dari tahap yang lebih rendah ke tahap yang lebih tinggi: kapitalisme industri.
Pandangan tersebut yang, sebenarnya, tidak didukung oleh apapun yang dikatakan
Lenin, pada akhirnya menjadi landasan bagi posisi IST—bahwa perkembangan
kapitalis akan selalu mengarah pada bentuk-bentuk kapitalisme Cina yang lebih
maju; dan industrialisasi, oleh karenanya, akan menjadi imperialisme.
Imprealisme modern telah menciptakan sebuah bentuk seni yang
mempromosikan “pembangunan” kapitalis non-industri. Pemahaman tersebut sangat
dibutuhkan untuk memahami ekonomi-politik saat ini. Contoh yang gamblang adalah
Indonesia. Ekonomi borjuis secara umum tidak membedakan antara industri maju
dengan industri perakitan padat karya (dengan buruhnya yang berketerampilan
rendah). Perakitan sepeda motor (yang suku-komponennya diimpor) dan mesin
produksi tekstil genggam di Indonesia, keduanya digolongkan sebagai
“manufaktur”. Dalam penggolongan tersebut, keduanya digabungkan dengan industri
mesin paling canggih dari AS dan Jepang. Ekonom borjuis (terutama yang bekerja
di Bank dunia), sejak awal tahun 1980-an, berpandangan bahwa Indonesia mulai
“terindustrialisasi”—tak ada seorang pun di Indonesia yang masih percaya hal
itu. Pencampuradukan antara perkembangan kapitalisme dengan industrialisasi,
seperti dala pendapat Harman, cenderung mendukung pijakan-kunci teori
pembangunan borjuis tersebut.
Imprealisme sebagai tahap kapitalisme
Artikel Kidron yang paling penting tentang imperialisme
berjudul “Imperialisme —satu-satunya tahap tertinggi”. Dimulai dengan:
Nasib kurang baik menimpa Lenin saat menulis satu-satunya
pamphlet yang ia anggap penting, dan menjadi tulisan yang paling berpengaruh,
The Highest Stage of Capitalism (imperialisme: tahap tertinggi kapitalisme)...
Sebenarnya pamflet tersebut ditulis untuk menjelaskan penyebab Perang Dunia I
namun kemudian, pada puncaknya, [telah] kehilangan pandangan (jauh ke depan),
menjadi tidak kritis, menjadi hampir universal, dalam menerima tema-tema
sentralnya. Hal itu menjadi lebih aneh karena banyak hal yang ia analisa
jelas-jelas telah berlalu atau menjadi kurang penting ketimbang pada zamannya.
Callinicos berpendapat bahwa dalam judul asli (bahasa Rusia)
pamplet Lenin tertulis tahap kapitalisme “terbaru”, bukan “tertinggi”; hal itu
berubah hanya setelah kematiannya. Callinicos mengambil acuan dari sebuah
artikel Bellamy Foster, yang justru sangat bertentangan dengan pengakuannya.
Pada khirnya, Bellamy, bagaimanapun juga, mengakui bahwa naskah tulisan tangan
Lenin tahun 1916 berjudul Imperialism, the Highest Stage of Capitalism
Imprealisme (imperialisme, tahap tertinggi kapitalisme). Hal itu mungkin nampaknya
seperti debat semantik, tetapi dampaknya adalah melemahkan legitimasi dan
pentingnya teori imprealisme Lenin. Menyimpulkan pandangan tersebut, Harman
mengakui bahwa “kekuatan abadi” karya Lenin dan Bukharin “tidak seperti yang
lain, (kekuatannya) terletak pada caranya memberikan penjelasan mengenai
seluruh apa yang disebut dengan ‘perang 30 tahun’ dalam abad ke-20 ini
[1914-1945]. Jadi, bagi Harman, “kekuatan abadi” Lenin itu tidak kekal.
Harman berpendapat bahwa “kapitalisme monopoli” telah
digantikan oleh “kapitalisme negara” pada tahun 1929. Sebagai akibat dari
swastanisasi, yang meluas pada 1980 dan di tengah-tengah keruntuhan Stalinisme
pada tahun 1991, Harman sempat menawarkan istilah “kapitalisme trans-negara”.
Callinicos lebih suka (memilih) tahap dan tanggal: “imprealisme klasik”
(1870-1945); “imperialisme adi-kuasa” (1945-1991), dan “Imperialisme setelah
Perang Dingin” (1991 dan seterusnya). Banyak akademisi yang memilih tahapnya
sendiri; baik David Harvey maupun Ellen Meiksins Wood memilih versi mereka
sendiri. Penggandaan tahap yang terlalu beragam akhirnya menjadi
sewenang-wenang dan deskriptif, tapi kurang analitis—seperti sebuah pepatah,
seorang profesor sosiologi yang sibuk memperdebatkan apakah ada lima atau tujuh
kelas sosial yang berbeda dalam masyarakat kapitalis. Dalam hal itu, pemaknaan
Lenin dalam menjelaskan imperialisme sebagai tahap kapitalisme yang tertinggi
dan terakhir tak ada kesamaanya.
Kisruh, sebagaimana menurut Lorimer, “berangkat dari asumsi
bahwa kemungkinan-kemungkinan bentuk sosial produksi tertentu (yang
dikondisikan secara historis) itu tidak terbatas. Seluruh fakta dan proses yang
dianalisa oleh Marx, dan Lenin, menunjukkan justru sebaliknya—hanya secara
spesifik terbatas dan bersyarat lah perkembangan tenaga produktif bisa terjadi,
setiap bentuk sosial produksi ditentukan oleh kesejarahannya.
Jelas, akan selalu ada gerak dari satu masa tertentu ke masa
yang lainnya. Namun, saat Lenin menulis tentang suatu “tahap” kapitalisme, ia
tidak bermaksud memberikan penjelasan tentang ciri yang dangkal, tapi tentang
kristalisasi bentuk tertinggi dari hubungan sosial produksi kapitalis. Ia
mengindentifikasikan adanya kemungkinan perubahan terakhir dalam struktur kelas
mendasar yang dibentuk oleh tahap monopoli kapitalisme. Dan monopoli
kapitalisme tidak dapat digulingkan tanpa revolusi sosial.
Menurut Marx, dengan terbentuknya perusahaan saham gabungan,
Modal, yang melekat di landasan cara produksi masyarakat dan
mensyaratkan konsentrasi sarana-sarana/alat-alat produksi dan tenaga buruh,
sekarang bisa menerima bentuk modal sosial (modal gabungan individu-individu
secara langsung) yang berbeda dengan modal swasta, dan perusahaan yang
terbentuk adalah perusahaan-perusahan sosial yang bertentangan dengan
perusahaan-perusahaan swasta. Itulah penghapusan modal sebagai milik pribadi
dalam batas-batas cara produksi kapitalis itu sendiri.
Hal ini mencakup:
Transformasi fungsi kapitalis (yang sebenarnya) yakni menjadi
sekadar manajer belaka, yang bertanggung jawab terhadap uang orang lain, dan
(fungsi) pemilik modal menjadi sekadar pemilik belaka, sekadar kapitalis
pemilik uang …pemilikan modal, yang sekarang…sepenuhnya terpisah dari fungsinya
dalam proses produksi aktual…Sehingga keuntungan menjadi sekadar sebagai
perampasan surplus tenaga kerja orang lain…
Dalam perusahaan saham gabungan, fungsi (produksi) dipisahkan
dari kepemilikan modal, sehingga tenaga kerja juga benar-benar terpisah dari
kepemilikan sarana-sarana/alat-alat produksi dan surplus tenaga kerja. Hasil
produksi kapitalis dalam perkembangan tertingginya (perusahaan saham gabungan)
adalah titik penting transisi menuju transformasi modal kembali pada
kepemilikan produsennya, meskipun tidak lagi sebagai milik pribadi
masing-masing produsen, melainkan sebagai kepemilikan bersama produsen,
kepemilikan sosial secara langsung. Hal itu, lebih jauh lagi, menjadi titik
transisi menuju transformasi semua fungsi yang sebelumnya terikat pada
kepemilikan modal dalam proses reproduksi menjadi fungsi sederhana
gabungan/himpunan produsen, menjadi fungsi sosial.
Itulah penghapusan cara produksi kapitalis dalam cara
produksi kapitalis itu sendiri, dan karenanya disebut kontradiksi yang
menghapuskan dirinya sendiri yang, sekilas saja bisa dipahami, kehadiran
dirinya sekadar sebagai titik transisi ke bentuk baru produksi. Kehadiran
dirinya merupakan sebuah kontradiksi bahkan dalam permunculannya. Itulah yang
melahirkan monopoli dalam lingkup tertentu dan karenanya memprovokasi
campur-tangan negara. Itulah juga yang mereproduksi aristokrasi keuangan baru,
jenis baru parasit dalam kedok penyokong/pengembang perusahaan, spekulan dan
segelintir direksi; seluruh sistem yang menipu dan curang bila dikaitkan dengan
pengembangan perusahaan, masalah saham dan transaksi saham. Itu sekadar
produksi swasta yang tidak dikendalikan sebagai kepemilikan pribadi.
Pembaca yang mengakrabi Lenin akan mengakui kedekatan
argumentasi Lenin dengan apa yang tertulis dalam halaman-halaman Capital
(modal) tersebut. Sebagai yang ditunjukkan oleh Lorimer:
Lenin tak perlu menciptakan sebuah teori baru untuk sampai
pada kesimpulan bahwa kapitalisme monopoli finansial adalah tahap tertinggi
perkembangan kapitalisme. Ia hanya harus menunjukkan bahwa ciri yang telah Marx
gambarkan sebagai karakteristik tahap tersebut—perusahaan bersaham gabungan;
pemisahan kepemilikan pribadi kapital dari fungsi manajerial dalam proses
produksi langsung; monopoli; munculnya “aristokrasi keuangan”; parasitisme
dalam bentuk rentenir; segelintir direksi perusahaan; dan para penipu di bursa
saham—telah menjadi bentuk dominan dan khas bisnis kapitalis pada awal abad
ke-20. Gambaran Lenin mengenai tahap kapitalisme monopoli finansial sebagai
tahap tertinggi—tahap yang kehabisan kemungkinan-kemungkinan untuk “berevolusi”
, yang berbeda dengan perkembangan revolusioner—adalah kesetiaan terhadap
konsepsi Marx tentang “produksi kapitalis dalam perkembangan tertingginya”.
Lorimer menjelaskan:
Keterasingan produsen langsung dari kepemilikan
sarana-sarana/alat-alat produksi adalah relasi internal yang merupakan esensi
dari bentuk kapitalis yang memproduksi komoditas. Itulah sebabnya saat terjadi
relasi internal, yang menghubungkan individu-individu pekerja dengan
individu-individu kapitalis di dalam proses produksi, maka secara lahiriah
terungkap lah perkembangan antagonisme sosial yang sepenuhnya—sebagai konflik
sosial antara, di satu sisi, produsen sebenarnya, yang terhimpun oleh proses
produksi menjadi kolektif individualitas, dengan, di sisi lain, para penghisap
non produsen yang, sama saja, terhimpun oleh kepemilikan mereka sebagai
kolektif individualitas yang bertentangan dengan kolektifnya sendiri—jadi,
jelas lah bahwa (a) tidak ada kemungkinan terjadi perkembangan selanjutnya
dalam hubungan produksi kapitalis; (b) bahwa antagonisme sosial telah menjadi
titik awal transisi ke bentuk sosial baru proses produksi; dan (c) bahwa titik
awal tersebut merupakan landasan material dan bentuk umum dalam kutub positif
dan negatif antagonisme sosial itu sendiri, yakni dalam himpunan produksi oleh
himpunan pemilik untuk kepuasan individual dan kebutuhan bersama.
Modal Keuangan
Harman mengaitkan argumen ini dengan Lenin, yakni bahwa
“kunci untuk memahami kapitalisme modern adalah pemahaman mengenai dominasi
negeri-negeri maju terhadap ‘modal finansial’ (bank dan bursa saham) dalam
modal industri.” Ia berpendapat bahwa, dalam pandangan Lenin, “modal finansial
(bank) dainggap memainkan peran sentral. Modal finansial telah mencapai tingkat
yang lebih tinggi dalam monopolisasi ketimbang industri, dan sangat
mengsubordinasi modal industri demi kebutuhannya.” Tapi Lenin tidak pernah
mendefinisikan modal finansial sebagai “bank” ataupun “bank dan bursa saham”.
Definisinya terang-terangan bertentangan dengan pendapat tersebut.
Lenin mendefinisikan modal finansial sebagai penggabungan (merger)
perbankan dengan modal industri, dan kemunculannya merupakan landasan bagi
bentuk monopoli yang sama sekali baru serta lebih tinggi. Dengan mengacu pada
dari buku Rudolf Hilferding tahun 1910, Finance Capital (modal keuangan), Lenin
menulis:
Proporsi modal industri yang terus menerus meningkat…berhenti
menjadi milik industrialis yang menanamkan modalnya. Mereka mendapatkan
modalnya melalui media, bank yang, dalam kaitannya dengan mereka, mewakili para
pemilik modal. Di sisi lain, bank dipaksa untuk meningkatkan porsi penyaluran
dananya ke dalam industri. Dengan demikian, dalam tingkat yang lebih tinggi,
para bankir sedang berubah menjadi kapitalis industri. Modal bank tersebut,
yakni modal dalam bentuk uang, yang sebenarnya sudah diubah menjadi modal ...
[adalah] “modal finansial”... Modal finansial dikendalikan oleh bank-bank dan
dikerjakan (investasinya) oleh para industrialis.
Lenin menambahkan bahwa definisi Hilferding “adalah definisi
yang tidak lengkap sejauh definisi tersebut bungkam terhadap satu fakta yang
sangat penting—bahwa peningkatkan konsentrasi produksi dan modal hingga kadar
sedemikian rupa maka konsentrasi akan mengarah, dan sudah mengarah, menuju
monopoli”.
Dalam pandangan Lenin, kemudian, modal keuangan adalah
“konsentrasi produksi; monopoli yang lahir darinya; penggabungan atau peleburan
bank-bank dengan industri” dan, kemudian, “modal keuangan adalah modal bank
dari beberapa bank monopoli yang sangat besar, bergabung dengan modal asosiasi
monopolis industrialis.
Lenin juga memberikan nama-nama pemilik modal keuangan.
Mereka termasuk pemilik perusahaan-perusahaan Siemens, General Electric, Sugar
Trust, United State Steel, Egyptian Sugar Refineries, Union Mining Company of
Dortmund, dan Steel Syndicate of Germany. Perusahaan-perusahaan itu bukan bank
(namun dimiliki juga oleh para pemilik modal keuangan).
Berdasarkan kesalahan pembacaannya, Harman berpendapat,
“Bukharian melanjutkan pengembangan teori yang lebih umum ketimbang Lenin”
karena “ia berfokus tidak hanya pada modal keuangan, tetapi pada cara bagaimana
modal industri [sic] terlalu didorong pada petualangan militer… dalam banyak
hal, sejarah kapitalisme Barat 50 tahun terakhir telah dilengkapi oleh gambaran
Bukharin yang lebih umum, yang lebih cermat daripada gambaran Lenin yang agak
sempit dengan konsentrasinya sekadar pada ‘modal keuangan’.
Harman kebingungan memahami perbedaan antara modal keuangan
yang didapat dari pinjaman dengan uang kredit atau dengan kategori ekonomi
sektoral borjuis, “sektor finansial” yang terdiri atas keuangan, asuransi dan
perumahan (FIRE). Kategori ekonomi sektoral borjuis adalah kategori teknis
dalam pembagian kerja bisnis kapitalis. Definisi Lenin, yang menjelaskan
tentang kelahiran dominasi “oligarki finansial”, menggambarkan perubahan
kesejarahan dalam struktur kelas kapitalis dan hubungannya dengan produksi.
Dua dekade kemudian, Harman mengayuh-balik pendapatnya,
sedikit terbuka menghubungkannya kepada pandangan Lenin yang dianggap salah
bahwa “modal keuangan” merupakan sub-sektor yang berbeda dan terpisah dari
kelas kapitalis (mempertentangkannya dengan modal industri). Pada tahun 2003,
ia hanya mengklaim bahwa “Penyampaian pikiran (phraseology) di bagian lain
pamplet Lenin memungkinkan orang [yaitu Harman] menafsirkan apa yang Lenin
katakan, sebagaimana juga yang dikatakan Hobson dan Kautsky, bahwa bunga (yang
didapat dari bisnis) finansial dan bank-bank terutama merupakan tanggung jawab
imperialisme.
Harman berpikir “ungkapan” Lenin “terutama” membingungkan
karena “ia bersikeras mengenai watak ‘parasit’ modal keuangan”. Ia mengutip
Lenin sebagai berikut: imperialisme menciptakan “pertumbuhan kelas yang luar
biasa, atau lebih tepatnya strata (lapisan) sosial kaum rentenir, yakni orang
yang hidup dari ‘guntingan kupon’, yang mengambil bagian dalam setiap
perusahaan apapun, yang berprofesi sebagai pemalas (pengangguran). Ekspor
modal, yang merupakan salah satu dari basis ekonomi yang paling penting dari
imperialisme, samasekali masih mengisolir rentenir dari produksi, dan mensegel
parasitisme di seluruh negeri yang hidup dari mengeksploitasi buruh berbagai
negeri dan koloni.” Namun, bagi Lenin dan Marx, lapisan parasit rentenir tidak
terpisah dari sayap kelas kapitalis, atau berbeda dari “kapitalis produktif”,
tetapi merupakan seluruh bagian atasnya—seluruh borjuis besar, yang sekarang
terpisah dari produksi, sebagaimana dijelaskan oleh Marx.
Harman lebih lanjut menjelaskan mengapa, meskipun tampaknya
ia menyadari kesalahannya dalam membaca Lenin, ia bersikukuh mengasosiasikan
Lenin sebagai pihak yang berpendapat bahwa terjadi pemisahan antara modal
produktif dengan “bunga finansial dan bank”. Itu karena pengakuan tersebut
mendukung posisi politik penting Harman, bahwa imprealisme bukan tentang
eksploitasi ekonomi negeri-negeri terbelakang, sebagaimana Lenin bersikeras.
Hal tersebut juga menjadi dasar Harman mengembangkan posisi yang dapat menyebabkan
orientasi sektarian nasionalisme Dunia Ketiga.
Harman berpendapat bahwa “penekanan” Lenin “pada
‘parasitisme’ modal keuangan” mengakibatkan “beberapa orang, yang diduga
mendasarkan dirinya pada karya Lenin, berposisi (dalam beberapa dekade setelah kematian
Lenin) adalah mungkin untuk membentuk aliansi anti-imperialis bersama kelompok
modal industri dalam melawan modal finansial—atau, dengan kata lain, jatuh
kembali setepat-tepatnya ke dalam kebijaksanaan Kautsky, yang menyerang Lenin
dengan begitu getir”. Formulasi Lenin “nampaknya dipandang sebagai teori
imperialisme yang yang segalanya dibebankan pada peran kunci bank dalam
mengekspor modal”.
Bila kita kesampingkan argumen Harman yang, sebenarnya, bukan
apa yang dikatakan oleh Lenin, tapi kita amati “ungkapan” yang nampaknya ia
ajukan, maka sangat lah mudah untuk menemukan sanggahan kategorisnya. Lenin
menyebutnya sebagai “cara pandang reformis borjuis”, yang percaya “adalah
mungkin, di bawah kapitalisme, memisahkan” antara “modal yang diinvestasikan
secara ‘produktif’ (usaha industri dan komersial) dengan modal yang
diinvestasikan secara ‘spekulatif’ (dalam Bursa Saham dan operasi-operasi
finansial)”.
Dihaturkan dari catatan Danial Indrakusuma



